JAKARTA – Fenomena Liga Akamsi di area padat Tambora, Jakarta Barat, muncul sebagai respons warga terhadap keterbatasan ruang bermain di lingkungan perkotaan.

Aktivitas yang memanfaatkan jalan lingkungan sebagai arena olahraga ini menjadi perhatian pengamat tata kota Universitas Indonesia, Muh Aziz Muslim, karena mencerminkan dinamika baru penggunaan ruang publik di wilayah padat penduduk.

“Ini kan merupakan turnamen yang menjadi salah satu inisiatif warga di mana hal itu dilakukan di daerah-daerah dengan karakter kawasan yang padat penduduk ya,” kata Aziz saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (20/6/2026).

Aziz menyoroti bahwa kegiatan serupa tidak hanya terjadi di satu titik, melainkan muncul di beberapa wilayah padat lainnya, yakni Sawah Lio hingga Jembatan Lima, Tambora.

“Kalau kita fahami ya dan juga kalau kita cermati bahwa ini menunjukkan adanya potensi besar ya sebagai ruang sosial warga, sebagai sebuah sarana interaksi lintas generasi, antar generasi,” ujar dia.

Ia menilai ruang semacam ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat bermain, tetapi juga menciptakan ruang sosial baru yang memperkuat hubungan antarwarga.

Aktivitas kolektif tersebut menjadi sarana interaksi yang jarang ditemukan di area perkotaan yang sangat padat.

“Pada sisi yang lain juga akan menghadirkan adanya penguatan solidaritas ya serta juga menjadi suatu ruang aktivitas positif ya bagi remaja, bagi anak-anak ya di saat kita masih mengalami kendala adanya keterbatasan ruang terbuka hijau ya,” katanya.

Lebih jauh, Aziz menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan bentuk adaptasi warga terhadap keterbatasan ruang kota.

Ia menyebutnya sebagai praktik tactical urbanism, yakni pemanfaatan ruang secara sementara untuk kebutuhan komunitas.

“Yang mesti difahami adalah bahwa ini menunjukkan apakah sebagai fenomena bentuk adaptasi ya. Saya yakin betul sekali ya bahwa Liga ini merupakan bentuk dari taktikal urbanism gitu ya,” ujarnya.

Konsep tersebut, menurut dia, muncul ketika warga tidak memiliki akses terhadap ruang terbuka formal sehingga memanfaatkan infrastruktur yang ada, termasuk jalan lingkungan, sebagai ruang aktivitas bersama.

Meski demikian, Aziz menilai penggunaan jalan sebagai ruang bermain membawa konsekuensi tersendiri, terutama terkait keselamatan dan fungsi utama jalan sebagai akses mobilitas warga.

“Tentu kalau kita melihat kondisi seperti ini ya ini merupakan cara cerdas warga ya mensiasati kebutuhan ruang publik ya, meskipun ya ada kondisi yang tidak aman karena dia menggunakan infrastruktur jalannya,” ujar Aziz.

Ia menambahkan bahwa perubahan fungsi ruang tersebut juga perlu diatur agar tidak mengganggu aktivitas warga lain.

Pengaturan waktu dan penggunaan menjadi hal penting dalam menjaga keseimbangan fungsi ruang publik.

“Memang juga mesti diperhatikan ya di mana kondisi ini tentu akan berpengaruh terhadap kenyamanan, keselamatan pengguna jalannya,” kata Aziz.

Di sisi lain, Aziz menekankan bahwa ruang komunal seperti Liga Akamsi memiliki nilai penting bagi perkembangan sosial masyarakat, terutama anak-anak dan remaja di wilayah padat penduduk.

Ia melihat bahwa kegiatan ini dapat memberikan dampak pada pola perilaku anak, termasuk pengurangan ketergantungan terhadap gawai serta peningkatan interaksi sosial secara langsung.

“Harapan di sini ya ada aspek kesehatan yang memang lebih baik ya kesehatan fisik mental, karena anak-anak tidak lagi bermain handphone, tapi mereka melakukan aktivitas fisik ya,” tutur Aziz.

Selain dampak sosial, Aziz juga menyoroti kemungkinan munculnya aktivitas ekonomi kecil di sekitar kegiatan warga tersebut.

Keramaian yang tercipta membuka peluang bagi pelaku usaha mikro di lingkungan sekitar.

Ia juga menilai kegiatan ini berfungsi sebagai pengaman sosial yang menyalurkan energi remaja ke arah positif, sekaligus mengurangi potensi konflik sosial di lingkungan.

“Yang paling penting juga sebenarnya di sini menjadi semacam katup sosial, bahwa ada ruang pengaman sosial yang memang dimaksudkan energi anak-anak kita itu tidak dipakai di jalanan, tidak buat tawuran ya,” katanya.

Aziz mengingatkan bahwa keterbatasan lahan di wilayah seperti Tambora membuat masyarakat harus kreatif dalam memanfaatkan ruang yang tidak terpakai secara optimal.

Identifikasi ruang kosong menjadi salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan.

“Kalau kita lihat bagaimana posisi Tambora yang saat ini tersedia kan memang lahannya sangat terbatas ya dan tidak mungkin ya untuk bisa memanfaatkan tanah-tanah yang berada di wilayah lain,” ujar Aziz.

Ia juga menawarkan gagasan pengaturan ruang berbasis komunitas, seperti penerapan car free day di tingkat kampung, agar jalan tertentu dapat digunakan secara bergilir untuk aktivitas sosial warga.

Menurut Aziz, pemerintah seharusnya tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga fasilitator yang mengatur sekaligus membina inisiatif warga agar tetap aman dan berkelanjutan.

“Prinsipnya dalam hal ini adalah perlu ada pengaturan dan pembinaan,” tegasnya.

Liga Akamsi: Stadion Jalanan di Gang Sempit Tambora

Liga Akamsi adalah turnamen sepak bola jalanan antar kampung yang digelar di Jalan Sawah Lio, Tambora, Jakarta Barat.

Karena tidak adanya lapangan memadai, jalan lingkungan dijadikan arena pertandingan.

Arena tersebut hanya berupa gang aspal yang ditutup sementara setiap pertandingan berlangsung.

Di sisi kiri dan kanan, warga berdiri menonton, sementara anak-anak berlari mengejar bola di ruang yang terbatas.

Liga ini diikuti oleh 8 tim dari 14 RT di RW 05 Kelurahan Jembatan Lima. Total peserta mencapai 48 anak yang terbagi dalam delapan tim. Kompetisi berlangsung sekitar tiga bulan dengan lima kali penyelenggaraan.

Ketua Karang Taruna Unit 05 RW 005, Muhammad Fikri Hidayat atau Ojon, mengatakan liga ini lahir dari keprihatinan terhadap kondisi anak-anak di lingkungan padat.

“Awalnya dari teman-teman di Penjaringan. Kami lihat anak-anak kecil main bola di tempat yang sempit dan kurang aman. Dari situ muncul ide harus ada wadah,” ujar Fikri saat ditemui.

Liga ini kemudian menjadi ruang pertemuan anak-anak dari 14 RT yang sebelumnya tidak saling mengenal.

“Awalnya mereka bahkan enggak saling berteman. Dengan Liga Akamsi ini akhirnya menyatukan mereka,” kata Fikri.

Namun tantangan terbesar bukan hanya ruang, tetapi juga izin penggunaan jalan dan pendanaan.

Biaya operasional mencapai sekitar Rp 2 juta setiap pekan, mencakup konsumsi, medis, hingga perlengkapan pertandingan.

“Awalnya patungan. Ada yang bantu uang, ada yang bantu tenaga,” ujarnya.

Meski begitu, warga dan aparat setempat disebut cukup mendukung, termasuk kepolisian dan pemerintah daerah.

Bagi Gilang (25), anggota Karang Taruna Unit 05, Liga Akamsi bukan hanya turnamen, tetapi juga pengingat masa lalu ketika anak-anak masih memiliki lapangan terbuka.

“Dulu di atas area stasiun itu ada lapangan. Sekarang sudah terbengkalai, jadi ruko,” kata Gilang.

Ia menyebut sedikitnya ada tiga lapangan yang dulu menjadi ruang bermain anak-anak Tambora, namun kini hilang seiring pembangunan.

“Dulu ada lapangan ya walau bukan rumput, hanya tanah merah dan bebatuan. Sekarang anak-anak sudah enggak punya lapangan,” ujar dia.

Kondisi itu membuat anak-anak kini bermain di jalan. Ia sendiri pernah menjadi bagian dari sekolah sepak bola, namun terhenti karena keterbatasan biaya.

“Biaya waktu itu sekitar Rp 150 ribu per bulan. Saya berhenti karena harus fokus sekolah,” ujarnya.

Meski begitu, ia melihat Liga Akamsi sebagai harapan baru. Ia menekankan pentingnya sistem pembinaan yang lebih serius.

“Bakat itu ada, tapi wadahnya yang kurang,” ujarnya.

Harapan Anak-anak: Bermain di Lapangan Sungguhan

Di antara riuh pertandingan, suara anak-anak menjadi gambaran paling jujur tentang krisis ruang bermain di kota besar. B

Salman (13) misalnya, mengaku sudah bermain bola sejak usia 6 tahun.

“Pengen main di lapangan kayak Timnas,” kata Salman.

Hal serupa disampaikan Bilal (12), yang hampir setiap hari bermain di jalan.

“Pengen main di lapangan terbuka,” ujar dia.

Dafa (13) bahkan menyebut bermain di jalan sudah menjadi rutinitas.

“Nyaman, seru. Tapi kalau ada lapangan lebih bagus,” katanya.

Sementara Rafa (16), kapten tim, menilai risiko cedera karena bermain di jalan sangat tinggi.

“Harus hati-hati karena main di aspal, takut cedera,” ujar Rafa.

Mayoritas anak-anak itu memiliki cita-cita yang sama, menjadi pemain sepak bola profesional. Namun mereka belum pernah merasakan bermain di lapangan yang layak.

Sumber: https://megapolitan.kompas.com/read/2026/06/22/20353801/krisis-ruang-terbuka-di-jakarta-liga-akamsi-jadi-solusi-sementara-anak?page=all#page2