Depok, 10 September 2026 – Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) menyelenggarakan Sidang Promosi Doktor atas nama Peny Meliaty Hutabarat dengan disertasi berjudul “Konstruksi Model Pariwisata Musik pada Destinasi Berbasis Budaya: Integrasi Pendekatan Experience Economy dan Stakeholder Collaboration.” Sidang promosi doktor dilaksanakan di Auditorium EDISI 2020, lantai 4 Gedung M FIA UI.
Disertasi ini berangkat dari berkembangnya pariwisata musik (music tourism), yaitu perjalanan yang sebagian atau seluruh motivasinya berkaitan dengan musik, baik melalui festival, konser, situs musik, maupun pengalaman budaya yang terkait dengannya. Ketika pariwisata musik hadir di destinasi berbasis budaya, festival tidak lagi sekadar menjadi pertunjukan, melainkan ruang pertemuan antara musik, tempat, budaya, masyarakat, dan wisatawan. Di dalam pertemuan tersebut, kepentingan para pihak kerap tidak berjalan searah: pengelola menginginkan acara yang baik dan berkelanjutan, destinasi perlu menjaga nilai budayanya, masyarakat membutuhkan ruang dan manfaat, sementara wisatawan datang dengan harapan memperoleh pengalaman yang bernilai. Konteks ini menjadi semakin relevan karena RPJMN 2025–2029 menempatkan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan sebagai bagian penting pembangunan nasional, dengan Kawasan Borobudur–Yogyakarta–Prambanan berstatus Destinasi Pariwisata Prioritas.
Penelitian ini menjawab tiga pertanyaan utama, yakni bagaimana experience economy diterapkan dalam pariwisata musik pada destinasi berbasis budaya, bagaimana kolaborasi pemangku kepentingan terjadi dalam konteks tersebut, serta bagaimana model yang mengintegrasikan keduanya dikonstruksi. Pendekatan yang digunakan adalah concurrent embedded mixed methods, dengan data kualitatif sebagai sumber utama pemahaman dan data kuantitatif sebagai penguat. Penelitian melibatkan 38 informan dan 464 responden pada dua lokus di Yogyakarta, yaitu Prambanan Jazz Festival yang merepresentasikan tangible heritage dan Ngayogjazz yang merepresentasikan intangible heritage serta kekuatan komunitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa experience economy tidak bekerja secara universal. Dimensi entertainment berperan sebagai penggerak perilaku utama (core behavioral driver) yang paling konsisten mendorong niat berkunjung kembali dan rekomendasi dari mulut ke mulut, sementara education, esthetics, dan escapism lebih banyak berfungsi sebagai lapisan pemaknaan (meaning-making layer). Penelitian ini juga menemukan bahwa pengalaman wisata tidak berhenti di lokasi festival, melainkan terus hidup setelah acara usai melalui unggahan, percakapan, dan interaksi sosial digital — sebuah fenomena yang dikonseptualisasikan sebagai Extended Experience through Social Media (EESCM). Selain itu, kolaborasi pemangku kepentingan terbukti menjadi mesin pembentuk pengalaman, dengan pola yang berbeda antarlokus: lebih bersifat institutional-driven di Prambanan Jazz Festival dan lebih community-driven di Ngayogjazz. Kolaborasi tersebut tidak otomatis berubah menjadi pengalaman bagi wisatawan, melainkan dijembatani melalui value co-creation.
Sebagai kontribusi akademik, disertasi ini mengonstruksi model pariwisata musik pada destinasi berbasis budaya dalam empat lapisan yang saling berhubungan, yaitu konteks destinasi sebagai conditioning structure, kolaborasi pemangku kepentingan sebagai generative mechanism, value co-creation sebagai bridge mechanism, serta perjalanan pengalaman wisatawan yang membentang dari tahap pre-event, during-event, hingga post-event. Model ini memandang pariwisata musik bukan sebagai satu acara yang berdiri sendiri, melainkan sebagai sistem yang hidup sebelum, selama, dan setelah festival. Penelitian ini sekaligus menegaskan bahwa autentisitas bersifat kontekstual dan relasional, sehingga budaya tidak dapat diposisikan sebagai sekadar latar belakang festival, melainkan sebagai kondisi yang membentuk pengalaman itu sendiri.
Berdasarkan temuan penelitian, disertasi ini merekomendasikan pemanfaatan model tersebut sebagai kerangka bagi pemerintah dan pengelola destinasi dalam membangun ekosistem pariwisata musik yang tidak hanya mengejar jumlah pengunjung, tetapi juga pelestarian budaya, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan destinasi. Bagi penyelenggara festival, model ini menawarkan cara merancang pengalaman berdasarkan customer journey, termasuk pemanfaatan media sosial untuk memperpanjang pengalaman setelah acara berakhir. Bagi komunitas dan pelaku budaya, penelitian ini menegaskan pentingnya posisi mereka sebagai co-creator, bukan pelengkap acara, sehingga keterlibatannya dapat diarahkan pada penguatan kapasitas, pelestarian warisan budaya, sekaligus kemandirian ekonomi. Sementara bagi industri dan pelaku usaha, model ini membuka ruang pengembangan inovasi berbasis budaya dan teknologi yang memperkuat nilai ekonomi kreatif serta daya saing destinasi.
Melalui disertasi ini, Peny Meliaty Hutabarat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu administrasi, khususnya dalam bidang tata kelola kolaboratif, administrasi dan kebijakan pariwisata, serta pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah, pengelola destinasi, dan pelaku industri dalam mengembangkan pariwisata musik yang mempertemukan kepentingan konservasi budaya dan komersialisasi secara seimbang dan berkelanjutan.
Sebagai informasi, sidang promosi doktor ini dipimpin oleh Prof. Dr. Dra. Retno Kusumastuti Hardjono, M.Si. selaku Ketua Sidang. Tim promotor terdiri atas Dr. Effy Rusfian, M.Si. sebagai Promotor dan Dr. Ixora Lundia Suwaryono sebagai Ko-Promotor. Adapun anggota tim penguji adalah Prof. Dr. Martani Huseini, Dr. Eko Sakapurnama, MBA., Dr. Pantius D. Soeling, M.Si., Dr. Mohammad Amin, S.Sn., M.Sn., MA., dan Dr. Sofian Lusa, S.E., M.Kom.



