Depok, 26 Agustus 2026 — Ketika gempa mengguncang Kobe, Prefektur Hyogo, Jepang, pada 1995, sebagian besar korban tidak diselamatkan oleh tim penyelamat resmi, melainkan oleh tetangga mereka sendiri. Fakta itu menjadi titik berangkat Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI), Dr. rer. pol. Desy Hariyati, S.Sos., M.A., dalam kolom bertajuk “Modal Sosial Manajemen Bencana Alam” yang dimuat di Tempo.

Pola tersebut, menurut Desy, bukan kebetulan. Ia merujuk studi William Pollock dan Joseph Wartman pada 2020 terhadap 38 peristiwa tanah longsor di berbagai negara, yang menemukan 77 persen korban selamat justru ditemukan oleh masyarakat di sekitar lokasi kejadian. Kekuatan inilah yang oleh peneliti resiliensi bencana Daniel P. Aldrich disebut sebagai modal sosial — “jejaring komunikasi dan kepercayaan yang tumbuh di tengah komunitas”.

Persoalannya, jaringan dan tradisi gotong royong yang terbukti menyelamatkan banyak nyawa itu justru belum menarik perhatian pemerintah. Desy mengulas mengapa modal sosial perlu diperlakukan sebagai investasi kebijakan, bukan sekadar bonus sosial yang muncul begitu saja saat bencana terjadi.

Ulasan lengkapnya dapat dibaca melalui tautan berikut.

Sumber: https://www.tempo.co/kolom/manajemen-bencana-gempa-ntt-2283835

Leave a Comment