Depok, 24 Agustus 2026. Universitas Indonesia (UI) kembali mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif memberikan dampak bagi masyarakat. Salah satunya adalah Salma Noorfitria Ningrum, lulusan Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) UI yang telah memberdayakan lebih dari 1.000 anak dan pemuda melalui Dreamity Indonesia dan Gemalar Indonesia. Pada Sabtu (22/8), Salma mengikuti Wisuda Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 dan resmi menyandang gelar Sarjana dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,73. Atas kiprahnya selama menjadi mahasiswa, Salma juga dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi FIA UI.

Salma membangun Dreamity Indonesia dan Gemalar Indonesia sejak masih menjadi mahasiswa. Dreamity berfokus pada pendidikan, seni, dan pengembangan diri, sementara Gemalar bergerak di bidang literasi media, digital, dan kecerdasan artifisial (AI). Berbagai program kemudian dijalankan untuk memberikan ruang bagi anak dan pemuda dalam mengenali dan mengembangkan potensi yang mereka miliki.

“Tidak semua anak punya kesempatan untuk bertemu dengan orang atau berada di lingkungan yang membuat mereka merasa ‘saya juga bisa’. Dari situ saya mulai melihat pendidikan bukan hanya soal pelajaran di kelas, melainkan soal memberi seseorang panutan dan ruang untuk mencoba, gagal, menemukan minatnya, dan berani punya mimpi,” ujar Salma.

Selama lebih dari dua tahun, Dreamity menjalankan berbagai program seperti #IlmuDreami, #KelasDreami, dan #KreasiDreami. Program tersebut menghadirkan kampanye seni dan budaya, kelas seni gratis bagi anak-anak dari kelompok rentan, serta ruang untuk menampilkan karya dan potensi peserta kepada publik.

Salah satu program yang paling berkesan bagi Salma adalah Ruang Dreami yang dilaksanakan di LPKA Kelas I Tangerang. Program tersebut menyasar anak-anak yang berhadapan dengan hukum. Melalui modul PULIH dan KEMBALI yang dikembangkan Dreamity, seni digunakan sebagai media untuk membantu peserta mengekspresikan diri sekaligus mengembangkan potensi. Sekitar 80 persen peserta menunjukkan perubahan dalam cara mengekspresikan diri setelah mengikuti program.

“Anak-anak yang berhadapan dengan hukum sering kali sudah lebih dulu mendapat stigma dari masyarakat, seolah-olah mereka hanya bisa dilihat dari kesalahan yang pernah mereka lakukan. Padahal di balik itu ada anak-anak yang juga punya pengalaman, luka, kebutuhan untuk didengar, dan potensi yang masih sangat besar,” kata Salma.

Dalam menjalankan Ruang Dreami, Salma dan tim juga berkolaborasi dengan berbagai pihak, di antaranya UNESCO, Young Leaders for Indonesia by McKinsey & Company, Plan International, komunitas lokal, praktisi hukum dan psikologi, serta pemerintah pusat dan daerah. Menurut Salma, kolaborasi tersebut penting untuk memastikan program yang dijalankan sesuai dengan kebutuhan peserta.

Membangun dua inisiatif sekaligus menyelesaikan pendidikan di UI bukan hal yang selalu mudah bagi Salma. Ia sempat merasa ragu dengan kemampuannya ketika mulai menjadi pendiri dan memimpin organisasi. Namun, pengalaman tersebut membuatnya belajar untuk tidak harus menunggu merasa siap sebelum memulai sesuatu.

“Kadang kita mulai karena kita peduli pada masalahnya, lalu sambil berjalan, kita belajar bersama tim menjadi orang yang mampu mengerjakannya,” ujar Salma.

Selain aktif membangun Dreamity dan Gemalar, Salma juga mengembangkan pengalaman kepemimpinannya melalui berbagai program. Ia merupakan penerima beasiswa penuh Young Leaders for Indonesia dari McKinsey & Company. Melalui program tersebut, ia bertemu dengan anak muda dari berbagai latar belakang dan belajar bahwa kepemimpinan tidak hanya tentang menjadi orang yang paling tahu atau berada paling depan.

“Saya belajar untuk lebih banyak mendengarkan dan memberi ruang bagi orang lain. Itu juga memengaruhi cara saya memimpin Dreamity dan Gemalar. Saya ingin orang-orang di dalam tim merasa bahwa ini adalah ruang mereka untuk berkreasi, membawa ide mereka sendiri, dan berhasil dengan tujuan kita bersama,” kata Salma.

Pengalamannya di bidang pendidikan dan kepemudaan juga membawanya ke tingkat internasional. Salma dipercaya menjadi Panelis Termuda pada The 10th International Conference on Global Citizenship Education (GCED) yang diselenggarakan oleh UNESCO APCEIU, UNESCO MGIEP, dan Pemerintah Korea Selatan. Dalam forum tersebut, ia menyampaikan pandangan mengenai pentingnya memberikan ruang bagi anak muda untuk tidak hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi juga berani berpikir, bersuara, dan ikut menciptakan perubahan.

“Saya berbicara tentang bagaimana pendidikan seharusnya tidak hanya membuat anak muda menjadi penerima pengetahuan, melainkan bagaimana anak muda punya keberanian untuk berpikir, bersuara, dan ikut menciptakan perubahan,” ujar Salma.

Selama menjadi mahasiswa UI, Salma juga pernah menjadi Duta UI dan Kurator TEDx UI. Ia meraih sekitar 30 prestasi dalam kompetisi nasional dan internasional, termasuk UNESCO Youth Hackathon 2024, serta mengikuti program pertukaran di Saint Louis University, National University of Singapore, dan Hankuk University of Foreign Studies. Ia juga terlibat dalam berbagai program bersama kementerian, lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan perusahaan multinasional.

Berbagai pengalaman tersebut turut melengkapi pembelajaran Salma selama menempuh pendidikan di FIA UI. Menurutnya, ilmu administrasi negara membuatnya terbiasa melihat sebuah persoalan secara lebih menyeluruh, termasuk memahami pihak yang terdampak dan memastikan program yang dibuat benar-benar memberikan manfaat.

“Di balik kebijakan dan sistem selalu ada manusia. Jangan sampai kita terlalu sibuk membuat sistem yang terlihat bagus, tapi lupa apakah sistem itu benar-benar membantu orang yang ingin kita bantu,” kata Salma.

Kini, setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya, Salma berencana memperdalam pengalaman di bidang kebijakan publik, bisnis, dan dampak sosial. Ia juga akan terus mengembangkan Dreamity dan Gemalar bersama tim dengan harapan program yang dijalankan dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan berkelanjutan.

Bagi Salma, keberhasilan sebuah program tidak hanya dilihat dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari apa yang dilakukan mereka setelah mendapatkan kesempatan. Ia berharap anak-anak dan pemuda yang pernah didampingi dapat tumbuh dan suatu saat menciptakan kesempatan yang sama bagi orang lain.

“Suatu hari ada anak yang pernah kami dampingi, kemudian tumbuh dan mampu menciptakan kesempatan untuk anak lain. Kalau siklus itu bisa seterusnya terjadi, saya rasa itu menjadi bentuk keberhasilan yang sangat berarti untuk kami,” ujar Salma.

Salma berharap pengalamannya selama menjadi mahasiswa dapat menjadi dorongan bagi mahasiswa lain untuk mulai berkontribusi dari lingkungan terdekat. “Mulai dari masalah yang paling dekat dengan kita, bantu satu orang, lakukan satu hal kecil. Kita tidak harus menunggu menjadi hebat untuk mulai berbuat baik,” pungkasnya.

Dengan berbagai inisiatif yang dibangunnya, Salma menambah daftar lulusan UI yang tidak hanya mengembangkan diri selama menempuh pendidikan, tetapi juga menggunakan pengetahuan dan pengalamannya untuk membuka kesempatan bagi anak dan pemuda lain.

Leave a Comment