Rencana pembangunan extended concourse di Stasiun MRT Bundaran HI menandai pergeseran cara Jakarta menata infrastruktur kotanya: mobilitas warga yang selama ini bertumpu pada trotoar dan jembatan penyeberangan mulai dialihkan ke ruang bawah tanah. Pergeseran pendekatan inilah yang disoroti Dr. Muh Azis Muslim, M.Si., pengajar Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI), dalam pemberitaan Bisnis.com.
Proyek tersebut disiapkan PT MRT Jakarta (Perseroda) bersama PT Integrasi Transit Jakarta untuk mengantisipasi lonjakan penumpang seiring perpanjangan rute MRT hingga Kota. Ruang seluas 4.439 meter persegi itu akan menyambungkan stasiun dengan gedung-gedung di sekitarnya sekaligus menampung aktivitas komersial, sehingga fungsinya melampaui sekadar ruang transisi menuju peron.
Menurut Azis, integrasi antara transportasi publik, ruang komersial, dan jalur pejalan kaki berpotensi memperkuat penerapan konsep transit oriented development (TOD) di Jakarta yang selama ini lebih banyak berlangsung di atas permukaan. Perpindahan sebagian aktivitas ke bawah tanah juga membuat pergerakan warga lebih terlindung dari panas, hujan, maupun polusi.
“Konektivitas tersebut berpotensi membentuk pusat keramaian baru sekaligus mengurangi beban aktivitas di permukaan,” ujarnya.
Meski begitu, Azis mengingatkan bahwa ruang publik dengan karakter baru ini menuntut prioritas pada keselamatan dan kenyamanan, termasuk perhitungan risiko yang khas ruang bawah tanah serta jaminan agar kawasan tersebut tetap dapat diakses berbagai kelompok masyarakat. Catatan selengkapnya, berikut penjelasan pengelola proyek soal antisipasi kepadatan di permukaan, dapat disimak pada tautan berikut.



