Perluasan layanan Transjakarta ke wilayah penyangga Jakarta, termasuk Jati Asih, Kota Bekasi, masih dihadapkan pada persoalan fasilitas dasar. Di titik pemberhentian Komsen Jati Asih, penumpang harus mengantre di pinggir jalan karena belum tersedianya halte sejak rute ini dioperasikan pada Mei tahun lalu.
Rute B41 Bekasi–Cawang Sentral melayani sekitar 2.000 penumpang setiap hari. Pada jam sibuk, antrean dapat berlangsung cukup lama, bahkan mencapai 30 menit hingga dua jam. Kondisi ini semakin menyulitkan penumpang, terutama saat hujan, karena tidak tersedia tempat berteduh.
Selain berdampak pada kenyamanan, antrean panjang juga kerap memengaruhi arus lalu lintas di sekitar lokasi. Keluhan dari masyarakat pun terus bermunculan, terutama terkait kebutuhan fasilitas dasar yang belum terpenuhi.
Menanggapi hal ini, DPRD Kota Bekasi mendorong pemerintah daerah untuk segera membangun halte di kawasan tersebut. Sebagai langkah sementara, diusulkan penyediaan fasilitas sederhana seperti tenda agar penumpang tetap memiliki tempat menunggu yang lebih layak.
Menurut Muh Azis Muslim, pengamat kebijakan publik dan dosen Departemen Ilmu Administrasi Negara FIA UI, kondisi ini menunjukkan bahwa perencanaan layanan belum sepenuhnya matang. Ia menilai operasional layanan transportasi seharusnya didukung kesiapan infrastruktur sejak awal.
Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah dan operator transportasi dalam memastikan fasilitas pendukung tersedia sebelum layanan dijalankan. Tanpa hal tersebut, kualitas layanan publik menjadi kurang optimal dan belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan masyarakat.
Perluasan transportasi publik memang menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi kemacetan. Namun, penyediaan fasilitas dasar seperti halte tetap menjadi hal yang tidak terpisahkan agar layanan dapat berjalan dengan baik dan memberikan kenyamanan bagi pengguna.



