oleh Martani Huseini
Ketua Klaster Center for Innovative Governance (CIGO) FIA-UI

Presiden Joko Widodo kembali berinisiatif untuk membalik paradigma berpikir membangun ekonomi desa sebagai penyangga ekonomi kota. Mungkinkah itu?

Pandangan klasik bahwa sumber daya di desa itu hanya coock untuk mengembangkan barang primer seperti produk pertaninan pangan, hortikultura, ternak atau ikan, itu perlu di-update. Transformasi sebuah desa pertanian yang miskin menjadi area industri yang hebat bukan hanya retorika di panggung politik. Salah satunya, Desa Huaxi di Provinsi Yansu, China. Dulunya, seperti desa-desa lain di China, Huaxi adalah desa miskin yang kelebihan tenaga kerja, tetapi kekurangan lahan pertanian.

Namun, kisah sukses sebuah transformasi ekonomi perdesaan terjadi disana. Adanya intervensi modal, terutama berupa energi listrik, jasa logistik, teknologi, dan kepemimpinan (leadership_ membuat Huaxi bertransformasi menjadi desa penghasil tekstil dan produk baja yang kompetitif. Huaxi pun berubah menjadi makmur dan sejahtera.

Kunci keberhasilannya adalah kepemimpinan Wu Ren Bau, sang kades (kepala desa). Ren Bau memastikan transformasi itu berjalan baik, efisien, kompetitif, dan bisa melibatkan SDM setempat. Usaha unit desa diberdayakan. Kini secara hiperbolik Huaxi sering disebut desa terkyaa di China.

Koperasi Unit Huaxi bisa memberikan pinjaman rumah dan mobil secara gratis kepada warga. Minyak goreng, asuransi kesehatan, serta biaya sekolah dasar dan menengah gratis. Apakah ini sebuah berita hoaks? Kebetulan tahun lalu, sebelum pandemi Covid-19 memeladk, pennulis sempat mengunjunginya dan cerita ini bukan hoaks. Desa-desa maju banyak sekali tumbuh di China. Presiden Park Chung Hee di Korea Selatan juga legenda dalam pembangunan desa di Korea Selatan. Pada 1960-an, Presiden Park mulai menginissiasi gerakan pembangunan desa. Desa-desa di Korsel ketika itu miskin dan tidak produktif. Gerakan Saemaul Undong (Pembangunan Berawal dari Desa) itu menekankan kerja keras,produktif, dipandu oleh keteladanan pemimpin lokal serta kultur gotong royong dalam membangun sarana infrastruktur.

Dengan bimbingan teknis, monitoring, serta bantuan modal (sedikit) dari pemerintah, gerakan itu bisa mentransformasikan kehidupan di desa. Pemandangan rumah-rumah dengan dinding tanah beratap jerami, tanpa listrik dan air bersih berubah menjadi rumah tembok, beratap genteng, berlistrik dan punya air bersih. Presiden Park, yang tak henti-henti memberikan motivasi dalam suatu gerakan sosial , membangun kultru kerja keras dan bergotong royong.

Intinya, sumber daya manusia (SDM) di perdesaan dididik, dikolaborasikan dalam sebuah gerakan (gotong royong) dan diajak berpikir menyelesaikan persoalan bersama. Konsep Saemaul Undong ini pun disebarluaskan ke seluruh negara-negara Afrika dan Asia, dengan penyediaan paket pelatihan di Korsel yang tak berbayar. Bahkan, ada subsidi uang perjalanan dan akomodasinya selama pelatihan. Dengan melihat dua contoh sukses di China dan Korsel, semestinya Indonesia harus bisa melakukan gerakan sosial serupa.

Resep Sukses Membangun Desa
Dari cerita sukses di atas tampak ada tiga kata kunci bagi keberhasilan membangun desa, yaitu LPC: leader, people (followers), dan culture. Keteladanan Wu Ren Bau di Desa Wuaxi ialah membawa SDM desanya fokus pada dua sektor usaha saja, tekstil dan produk baja, sesuai tradisi tahunan yang ada di ddesa itu. Ketika usaha industri desaya maju, tentu perlu pembiayaan untuk mengembangkan ke level yang lebih tinggi. Mereka mengincar uang melimpah di pasar modal, tanpa bantuan pemerintah. Tentu, pasar modal menuntut standar industri yang efisien dan bermutu, dan itu dipenuhinya. Jadilah, Huaxi emiten di pasar modal dan meraup uang besar dan murah. Kini produknya dijual ke lebih dari 40 negar.a

Wu Ren Bau adalah sosok yang sederhana tapi tegas. Ia selalu mengingatkan warga akan nilai-nilai budaya leluhur, yaitu kerja keras, bangun pagi, hemat, disiplin, kompak, dan menjunjung tinggi kejujuran. Nilai-nilai itu hidup di masyarakat (people) dan terus dijaganya lewat pidato-pidato, ditulis dalam tiang-tiang gedung fasilitas publik, dan diimplementasikan dengan rewards and punishment.

Pendidikan pun dinomorsatukan. Penanaman kedisiplinan warga dilakukan dengan keras. Mereka yang terbukti merusak fasilitas publik semisal merusak satu pot bunga akan dihukum dendan setara 1.500 dollar AS. Jika warga meninggalkan Desa Huaxi, segala hak (sewa rumah dan mobil gratis), fasilitas asuransi dan bantuan sosial lainnya dicabut. Urbanisasi dapat dicegah.

Demikian juga kasus pembangunan desa di Korsel, awalnya dipancing dengan pembagian gratis 335 zak semen di tiap desa. Desa yan gberhasil memanfaatkan secara produktif diberikan bonus tambahan 500 zak semen ditambah 1 ton kawat besi beton. Desa semakin produktif . Pendapatan per akpita warga desa ayng 79 dollar AS pada 1960-an tumbuh lebih dari 10 kali pada 1970-an. Eksponensial pertumbuhannya.

Pelajaran yang bisa dipetik dari konsep LPC di kedua negara adalah ada kehadiran pemimpin di tingkat akar rumput yang mampu mebangun sense of crisis dalam melakukan perubahan ke arah perbaikan nasib hidupnya. Tahap berikutnya dibangun koalisi bersama (menurut tokoh konsep Change Management John Kotter) sehingga ada gerakan sosial yang masif (massive social movement).

Visi dari sang pemimpin disosialisasikan dan dikembangkan secara bersama, yakni nilai-nilai ketekunan, mau menolong diri sendiri, dan kolaborasi (diligence, selfhelp, and cooperation).

Nilai-nilai itulah yang disepakati. Tidak lupa pula dipikirkan aspek syukuran/selebrasi keberhasilan secarra periodik, termasuk kegiatan review dalam validasi pembakuan kunci keberhasilan untuk replikasinya.

Pembangunan desa di Indonesia
Beberapa contoh sukses di Indonesia juga telah tampak geliatnya di banyak desa. Seperti Desa Wisata, Desa Mina Padi, Kampung Batik, dan masih banyak yang lain. Bahkan yang baru-baru ini menjadi viral di media sosial adanya “inventor” dari Desa Kepel, Madiun.

Ini Contoh sukses sebuah desa yang tadinya gersang, berkat keteladanan seorang pemuda Paidi (Bekas pemulung dan penjual tahu). Karena keultean dan kegemarannya belajar dari internet, ia akhrnya mendapatkan ide untuk mengembangkan tanaman porang (Amorphophallus muelleri Blume), sejenis umbi-umbian Araceae yang mengandung karbohidrat dan kalsium oksalat buat bahan tepung campuran mi, udon. Bahkan sangat baik dijadikan bahan baku lem/perekat rama lingkungan.

Porang kering dihargai Rp 100.000 per kilogram sehingga dengan kepemilikan 1 hektar lahan tanah, bisa menghasilkan minimal Rp 800.000 per panenan, tiga kali panen dalam setahun. Suatu nilai yang menggiurkan ketimbang tanaman lainnya. Upaya inovasi dari desa semacam inilah yang bisa mengatrol perekonomian Desa Kepel dan sekitarnya. Berkat jiwa sosial sang penggagas, Paidi, yang mau membina pengikutnya, dengan kultur “Mau Berbagi” akhirnya perekonomian warga Desa Kepel dan sekitarnya meningkat sangat pesat.

Masih banyak contoh lain yang menarik. Misalnya, pengembangbiakan belatung dari lalat hitam (maggot black soldier fly). Budidaya maggot akhir-akhir ini sangat populer dikembangkan di beberapa desa di Jawa Barat, yang hasilnya digunakan sebagai campuran pakan ikan maupun ternak pengganti fish-mill yang masih diimpor dari Chile dan Peru. Dua contoh inilah yang bisa memvalidasi bahwa desa di Indonesia pun sangat mungkin dijadikan sebagai penyangga ekonomi kota. Asalkan kreativitas keinovasian warga desa bisa dibangun dan didorong.

Kultur baru desa
Kepemilikan perangkat Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi sudah lebih dari dua peridoe kabinet kepresidenan disiapkan. Tujuannya supaya desa-desa yang berjumlah 74.953 desa bisa diorkestrasi dalam berswadaya membangun perekonomian desa, walaupun setiap tahun sudah diberikan insentif modal yang memadai dengan dibantu para pemandu cendekiawan muda yang direkrut untuk setiap desa. Dana pemerintah yang sudah digelontorkan oleh pemerintah sudah mencapai Rp 21 triliun.

Bahkan sudah didirikan institusi/lembaga penyangga pendampign seperti BUMDes di setiap desa, tetapi hasilnya belum tampak geliatnya secara spektakuler. Apalagi PResiden Jokowi menginisiasi harapan baru di tengah musibah pandemi Covid-19, yang haru sbisa diwujudkan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Menengkok keberhasilan membangun LPC desa sehingga bisa mendongkrak perekonomian kota di China dan Korsel, ternyata tak ada korelasi antara bangunan resmi institusi kementerian dan hasil capaiannya.

Dari telisik akademis, hal yang lebih penting dalam bangunan desa agar bisa berswadaya dan menjadi penyangga kota adalah setting platfrom ekosistem (pemilihan aktor dan faktor). Dalam hal ini, pemimpinnya, agar bisa melakukan dua hal penting, yakni bisa berinovasi dan berkolaborasi dengan warganya (innovative dan collaborative governance) dan serta pada akhirnya mempengaruhi pengikutnya (followers) dalam suatu desain nilai budaya organisasi yang tepat (appropriate organization cultrue), disepakati dan dianut.

Setelah fondasi budaya dibentuk, kemudian daya ungkit yang inovatif dipilih berdasarkan faktor-faktor kompetensi yang dimiliki di setiap desa, dengan memperhatikan pula kearifan lokal yang ada di desanya. Konsep pembaruan roh baru one village one innovation (OVOI) perlu ditiupkan dan dipandu oleh pemerintah sebagai pengganti roh lama one village one product (OVOP).

Tuntunan yang terporgram dalam setiap gugus tugas di setiap desa perlu diarahkan, dipandu, dan difasilitasi agar tujuan membangun desa sebagai pendongkrak ekonomi kota bisa diimplementasikan.

Tulisan ini dimuat dalam harian Kompas, Jumat 23 Oktober 2020

Leave a Comment