Pandemi COVID-19 menyebabkan dampak signifikan terhadap masyarakat mulai dari kegiatan usaha terganggu, perusahaan mengalami kerugian, PHK besar-besaran, terdampaknya UMKM sehingga menyebabkan penurunan konsumsi, investasi, ekspor impor, maupun fiskal berakibat turunnya pertumbuhan ekonomi. Dalam mewujudkan percepatan pemulihan ekonomi nasional, Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) Prof Chandra Wijaya mengusulkan terobosan kebijakan strategis dalam peningkatan konsumsi, investasi, ekspor dan impor, maupun fiskal.

“Ada dua terobosan yang penting dalam kebijakan peningkatan konsumsi yaitu pertama, meningkatkan daya beli dan konsumsi masyarakat melalui percepatan dan peningkatan serta perluasan subsidi dan bansos untuk masyarakat miskin dan rentan miskin.  Kedua, memperluas stimulus agar masyarakat menengah ke atas dapat meningkatkan konsumsinya,” kata Prof Chandra dalam Seminar Nasional Peran Kementerian Hukum dan HAM dalam Mengakselerasi Indonesia Sehat dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Selasa (12/10).

Agar ekonomi secara bangkit Prof Chandra mengusulkan lima strategi terkait kebijakan peningkatan investasi, diantaranya memperluas dan meningkatkan Insentif pajak dan insentif kepabeanan dan cukai, memberi kelonggaran persyaratan kredit/pembiayaan/pendanaan bagi pelaku usaha, memberikan keringanan pembayaran kredit bagi pelaku usaha khususnya UMKM, mengembangkan dan memperkuat ekosistem digital bagi para pelaku usaha khususnya UMKM, serta mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif dan mendorong kredit swasta untuk mendukung sektor riil  yaitu suku bunga rendah.

“Dalam kebijakan ekspor dan impor diperlukan untuk memperluas dan meningkatkan insentif pajak dan insentif kepabeanan dan cukai, penyederhanaan serta pengurangan jumlah Larangan dan Pembatasan (Lartas) ekspor impor, serta percepatan layanan proses ekspor-impor,” tutur guru besar FIA UI.

Sedangkan dalam kebijakan fiskal, Prof Chandra berpendapat agar pemerintah mempertahankan dukungan fiskal jangka pendek untuk mengurangi risiko peningkatan kemiskinan dan menopang permintaan. Selain itu, strategi fiskal jangka menengah yaitu rencana yang jelas untuk meningkatkan lebih banyak penerimaan pajak sehingga dapat meningkatkan ruang fiskal.

Namun, untuk mewujudkan pemulihan ini diperlukan koordinasi dan sinkronisasi antar lembaga di sektor moneter, keuangan maupun fiskal. Hal ini disebabkan selama ini masih tumpang tindihnya aturan antar lembaga dalam menangani pemulihan ekonomi akibat pandemi COVID-19. “Koordinasi dan sinkronisasi antar lembaga perlu ditingkatkan untuk menjaga harmonisasi orkestra kebijakan, sehingga stabilitas indikator makroekonomi dapat terjaga serta dapat mempertahankan kredibilitas, stabilitas dan menjaga sentimen pasar yang positif dan stabil,” tutup Dekan FIA UI.

Leave a Comment