Depok, 16 Juli 2026 — Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) menghadirkan sesi masterclass bertajuk “Research Ecosystem Benchmarking & Strategic Alignment: Designing an Effective Research and Innovation Ecosystem”, masih dalam rangkaian Conceptual Workshop hari pertama “Foundations of Modern Academic Leadership” pada Executive Development Program (EDP). Sesi ini berlangsung di coworking space Gedung FIA UI lantai 1 dan diikuti oleh 16 peserta yang terdiri atas dekan dan pimpinan universitas dari sejumlah kampus di Indonesia.
Materi disampaikan oleh Prasandhya Astagiri Yusuf, Ph.D., Kepala Subdirektorat Riset Berdampak Tinggi, Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi (DIRBT) Universitas Indonesia.
Dalam pemaparannya, Prasandhya menyoroti tantangan universal yang dihadapi perguruan tinggi dalam menghilirisasi riset ke pasar, yang dikenal sebagai fenomena “valley of death”. “Banyak inovasi tetap berhenti di tahap konsep atau prototipe karena kesenjangan prioritas antara akademisi yang berorientasi publikasi dan industri yang menuntut kesiapan pasar, kecepatan, dan profitabilitas. Ditambah lagi keterbatasan dana untuk fasilitas scale-up serta persoalan kekayaan intelektual yang kerap memperlambat kolaborasi,” ujarnya.
Sebagai solusi, Prasandhya memperkenalkan Simultaneous Coupling Model of Innovation yang diterapkan UI melalui Science Techno Park (STP) — model yang memadukan dua arah inovasi sekaligus: dorongan dari sisi teknologi/riset (technology push) dan tarikan dari kebutuhan pasar (demand pull), yang dipertemukan lewat proses matchmaking sebelum masuk ke tahap hilirisasi industri. “Pendekatan ini didukung oleh lebih dari 10.000 kekayaan intelektual UI yang dipetakan lewat sistem UI IPIS, serta gedung STP UI seluas 9.000 meter persegi dengan 8 lantai yang mengakomodasi seluruh siklus inovasi, dari ideasi, prototipe, pengembangan produk, hingga pembentukan startup atau lisensi,” katanya, sembari mencontohkan sejumlah produk hilirisasi UI yang telah sampai ke masyarakat, seperti kit skrining cepat dengue dan prototipe vaksin dengue mRNA hasil kolaborasi dengan Tsinghua University serta aplikasi StethoSoul untuk deteksi dini gangguan kesehatan mental remaja.
Prasandhya juga memaparkan skema Program Pendanaan Inovasi (PPI) 2026 yang mendampingi inovasi dari tingkat kesiapan teknologi (TKT) rendah hingga siap dilisensikan — mulai dari studi kelayakan pendanaan internal UI hingga Rp150 juta, program pengembangan produk hingga Rp1,5 miliar, sampai program persiapan hilirisasi bersumber PHLN PRIMESTeP hingga Rp2 miliar. Ia juga menyebut capaian program inkubasi startup UI yang telah menghasilkan 205 startup sejak 2017, serta kolaborasi riset internasional dengan tujuh universitas Top 100 QS pada 2025 senilai lebih dari Rp1,17 miliar.
Sesi ini menegaskan bahwa hilirisasi riset membutuhkan lebih dari sekadar teknologi yang matang, tapi juga tata kelola kelembagaan, pendanaan bertingkat sesuai kesiapan teknologi, serta jejaring kemitraan industri dan pemerintah yang terstruktur.
Diketahui, Executive Development Program ini diadakan dari tanggal 15 hingga 22 Juli 2026, bertempat di FIA UI Depok dan Zhejiang University, Tiongkok.



