Depok, 16 Juli 2026 — Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) menghadirkan sesi masterclass bertajuk “Leading Higher Education Transformation to Become World Class University” pada Conceptual Workshop hari pertama bertajuk “Foundations of Modern Academic Leadership”, sebagai bagian dari rangkaian Executive Development Program (EDP). Sesi ini berlangsung di coworking space Gedung FIA UI lantai 1 dan diikuti oleh 16 peserta yang terdiri atas dekan dan pimpinan universitas dari sejumlah kampus di Indonesia.

Materi disampaikan oleh Dr. Ir. Rudy Setyopurnomo, MM., MPA., MSM., dengan bahan presentasi berjudul “Cetak Biru Transformasi WUR Top 100: Membangun Ekosistem Riset & Konsultasi Global Terintegrasi melalui Aliansi Triple-Helix.”

Dalam pemaparannya, Dr. Rudy menyoroti bahwa target Indonesia menembus Top 100 QS World University Rankings sebagaimana dimandatkan dalam RPJMN 2020-2024 belum tercapai. “Kualitas akademik tradisional terbukti tidak cukup untuk mengejar target tersebut. Universitas-universitas elit dunia justru digerakkan oleh ekosistem inovasi industri, bukan sekadar oleh ruang kelas,” ujarnya, sembari menyebut hasil benchmarking ke Zhejiang University (ZJU, peringkat #46 QS dunia) sebagai salah satu pemicu perlunya paradigma baru menuju ekosistem berbasis riset yang terintegrasi secara global dan digerakkan oleh aktivitas konsultasi (consulting-powered).

Dr. Rudy memaparkan delapan pilar yang perlu ditata ulang dalam bisnis pendidikan tinggi, mencakup tata kelola global, keunggulan kurikulum berstandar universitas Ivy League, konsentrasi talenta lewat rekrutmen post-doc global, penguatan ekosistem riset, internasionalisasi, keterlibatan industri, manajemen peringkat dunia, hingga keberlanjutan pendanaan yang tidak lagi bergantung sepenuhnya pada uang kuliah mahasiswa.

Sebagai solusi inti, ia menawarkan Model Aliansi Triple-Helix yang menggabungkan tiga pihak: Universitas Indonesia sebagai penyedia keahlian riset lokal dan talenta akademik, Grup Danantara sebagai penyedia masalah industri nyata sekaligus mesin pendanaan, serta universitas-universitas kelas dunia sebagai penyedia kerangka kerja dan kredibilitas global. “Model ini didukung dua mesin pendanaan: dana abadi (endowment fund) sebagai modal jangka panjang, dengan target Rp7-10 triliun dalam 10 tahun, dan pendapatan konsultasi yang mengambil alih 30-50% anggaran konsultan asing dari Danantara, bernilai ratusan miliar rupiah per tahun,” katanya.

Sesi ini juga memaparkan skema kemitraan dengan sejumlah universitas dunia — Harvard University untuk tata kelola dan kebijakan, MIT untuk _engineering_ dan sistem industri, Stanford University untuk inovasi dan _venture building_, serta Oxford dan Cambridge untuk riset ESG dan keberlanjutan — yang diselaraskan dengan Rencana Strategis UI 2025-2029. Dr. Rudy menutup sesi dengan memaparkan peta jalan eksekusi tiga tahun menuju target Top 100 QS WUR, dimulai dari benchmarking global dan penandatanganan LoI, dilanjutkan fase fondasi dan akselerasi, hingga target akhir berupa ekosistem pendanaan mandiri.

Selain kerangka transformasi kelembagaan, sesi ini turut membahas bagaimana visi strategis institusi dapat diterjemahkan menjadi kinerja finansial yang terukur, dengan mengangkat kerangka EBITDAMAX dan studi kasus lintas sektor — rumah sakit, universitas, hingga manufaktur — sebagai model untuk mengintegrasikan target profitabilitas ke dalam setiap unit kerja harian.

Diketahui, Executive Development Program ini diadakan dari tanggal 15 hingga 22 Juli 2026, bertempat di FIA UI Depok dan Zhejiang University, Tiongkok.

Leave a Comment