Depok, 4 Juli 2025 – Sebuah penelitian Doktoral Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) oleh Saryadi menyoroti keberhasilan Program Kelas Industri Horison (KIH) dalam menjembatani kesenjangan antara pendidikan kejuruan dan kebutuhan industri, khususnya di sektor perhotelan.
Penelitian ini merekomendasikan model collaborative platform yang diperkuat sistem informasi terintegrasi untuk meningkatkan daya saing lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di tengah ketatnya persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Indonesia masih menghadapi tantangan besar dengan sekitar 40% tenaga kerjanya berpendidikan maksimal Sekolah Dasar, dan mismatch serius antara keterampilan lulusan pendidikan dengan kebutuhan industri. Meskipun SMK diharapkan menjadi solusi untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja, tingkat pengangguran lulusan SMK masih tinggi, mencapai 13,55%, dan kolaborasi dengan Dunia Usaha dan Industri (DUDI) masih terbatas.
“Program KIH hadir sebagai inovasi untuk memperkuat kolaborasi ini, mengembangkan kurikulum bersama, melibatkan praktisi industri sebagai pengajar, dan menyediakan praktik kerja di hotel mitra,” Jelas Dr. Saryadi.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis penerapan collaborative platform di SMK di Jakarta, Semarang, dan Yogyakarta untuk mengidentifikasi faktor penentu keberhasilan program dan mengembangkan model yang adaptif dengan kebutuhan industri perhotelan.
Program Kelas Industri Horison (KIH) telah menunjukkan keberhasilan dalam empat aspek utama. Pertama, program ini memiliki daya tarik karena kemitraannya didasarkan pada kebutuhan nyata industri, sehingga memberikan manfaat konkret bagi siswa dan dunia usaha. Kedua, aspek pembelajaran terwujud melalui penguatan kemitraan, pelatihan bersama, dan pengalaman kolaboratif yang menghasilkan komitmen jangka panjang.
Ketiga, program ini menunjukkan kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya secara optimal (leverage), di mana pemanfaatan sumber daya minimal mampu memberikan dampak signifikan pada peningkatan kompetensi lulusan. Terakhir, sinergi yang kuat terbangun melalui forum kemitraan informal seperti grup WhatsApp, koordinasi antara pusat dan daerah, serta monitoring yang efektif.
“collaborative platform yang dikembangkan dalam penelitian ini mengadopsi kerangka Ansell & Gash, yang dibagi menjadi tiga tahap implementasi, persiapan, pelaksanaan, dan penyerapan lulusan. Setiap tahap ini diperkuat dengan sistem informasi terintegrasi. Sistem terintegrasi ini dirancang untuk mempercepat koordinasi, meningkatkan akuntabilitas, dan menjamin akses informasi yang terbuka bagi semua pihak yang terlibat dalam program,” Tutur Dr. Saryadi.
Dalam penelitiannya Dr. Saryadi menyampaikan bahwa sistem informasi terintegrasi ini menjadi penguat utama di setiap tahap, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun penyerapan lulusan. Harapannya, model ini dapat mempercepat koordinasi antarpihak, meningkatkan akuntabilitas program, dan memastikan bahwa informasi dapat diakses secara transparan oleh semua pemangku kepentingan yang terlibat.
Untuk keberlanjutan dan perluasan program, Dr. Saryadi merekomendasikan beberapa langkah strategis. Pertama, pengembangan sistem informasi terintegrasi sebagai tulang punggung digital platform untuk menghubungkan data lulusan, kebutuhan industri, dan perencanaan pendidikan. Kedua, penguatan koordinasi lintas sektor untuk menyatukan visi bersama antara SMK, industri, dan pemerintah. ketiga, peningkatan sinergi antar kementerian dan lembaga dalam kebijakan pendidikan vokasi. Terakhir, kolaborasi erat antara pemerintah dan dunia usaha diperlukan untuk memastikan kurikulum dan pelatihan SMK selalu relevan dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.
Penelitian ini membuktikan bahwa collaborative platform dalam Program KIH efektif membangun kemitraan strategis, menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri. Model yang ditawarkan ini dapat direplikasi dengan dukungan sistem informasi digital untuk koordinasi, pemantauan, dan evaluasi real-time, memberikan solusi konkret atas masalah link and match dalam pendidikan vokasi Indonesia.
Sebagai informasi tim penguji sidang promosi doktor terdiri dari, ketua Prof. Dr. Dra. Retno Kusumastuti Hardjono, M.Si., promotor Prof. Dr. Irfan Ridwan Maksum, M.Si., Ko-Promotor Vishnu Juwono, S.E., M.I.A., Ph.D. yang beranggotakan Dr. Ir. Dwi Untoro Pudji Hartono, S.H., M.A., Dr. Abi Sujak, M.Sc., Prof. Dr. Amy Yayuk Sri Rahayu, M.Si. serta Dr. Roy Valiant Salomo, M.Soc.Sc.



