JAKARTA, KOMPAS.com – Sejumlah warga mengaku masih khawatir meski tanggul di Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, yang sempat bocor sudah ditambal dengan pasir.
Salah satunya Nurhasan (40) yang merasa takut tanggul di depan rumahnya itu jebol, meski sudah diperbaiki.
“Khawatir takut lah kalau jebol, orang lautnya sudah tinggi,” ucap Nurhasan saat diwawancarai Kompas.com di lokasi, Jumat (5/12/2025).
Ia bercerita, tanggul sepanjang dua kilometer yang membentang di samping Pelabuhan Nizam Zachman itu dibangun ketika Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjabat sebagai Gubernur Jakarta.
Keberadaan tanggul ini dinilai sangat membantu untuk melindungi perumahan warga di Muara Baru agar tidak terendam banjir rob.
Keberadaan tanggul ini dinilai sangat membantu untuk melindungi perumahan warga di Muara Baru agar tidak terendam banjir rob.
Namun, sekitar dua hingga tiga tahun ke belakang, tanggul setebal 30 sentimeter (cm) itu mulai banyak yang retak dan bocor.
Nurhasan juga bilang, kebocoran tidak hanya terjadi di satu titik saja, tapi banyak dan sudah lama. “Banyak (yang bocor), di sana, di sini, bukan di titik sini saja.
Kalau kebocoran yang gede baru dari kemarin, paling parah di pojok deras airnya tumpah ke daratan,” jelas dia.
Air laut yang tumpah ke daratan imbas tanggul bocor ketinggiannya mencapai 10 cm pada Kamis (4/12/2025).
Warga lain, Tari (60), juga mengaku begitu takut dengan kondisi tanggul yang sudah sering bocor.
“Semua orang was-was pasti ada takutnya, warga sini juga resah lah namanya kita hidup di tanah begini,” ucap dia.
Ia mengaku takut jika tanggul itu tak lagi mampu menahan deburan air laut dan ambruk begitu saja.
Pasalnya, jarak rumah Tari dengan tanggul itu hanya sekitar 800 meter. Jika air laut tumpah maka kediamannya berpotensi besar paling pertama terdampak.
4 RT berpotensi terdampak
Sedangkan warga lain bernama Iis (42) mengatakan, ada empat RT yang bakal pertama terdampak jika tanggul Muara Baru jebol.
“RT 6, RT 12, RT 05, RT 14, yang berada di sepanjang tanggul ini,” ucap dia.
Sebagian besar rumah di empat wilayah RT itu terbuat dari bangunan semi permanen, seperti kayu dan tripleks.
Kondisi itu pula yang membuat Iis begitu khawatir jika air laut tumpah tiba-tiba dan menyapu bersih pemukimannya.
Sebab, ketika mengalami kebocoran parah empat hari yang lalu, air laut yang tumpah ke darat sudah menggenang hingga pemukiman warga.
“Baru-baru ini airnya sampai ke sini, cuma kalau sekarang mending karena ditutupin, kalau kemarin tinggi sampai ke betis. Ada air yang masuk ke rumah, ada yang tidak,” ucap Iis.
Kondisi tanggul yang sudah bocor membuat Iis dihantui rasa khawatir setiap harinya sama seperti warga lain.
Oleh sebab itu, ia berharap agar pemerintah bisa membangun tanggul laut di Muara Baru lebih kokoh.
Pasalnya, keberadaan tanggul sangat dibutuhkan warga untuk melindungi tempat tinggalnya.
“Kita berharap ada pembangunan tanggul lebih kokoh lagi, tinggi, itu udah goyang banget kalau enggak ada tanggul udah kelelap kita,” jelas Iis.
Perbaikan sementara
Penambalan dengan pasir merupakan perbaikan sementara yang dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
Sebab, Pemprov Jakarta menyebut bahwa tanggul Muara Baru itu berada di bawah kewenangan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo).
Jadi, proses perbaikan tanggul yang bocor ke depannya harus dikoordinasikan dulu dengan pihak Pelindo.
Oleh karena itu, penambalan dengan pasir sebagai salah satu upaya untuk mengatasi kebocoran tanggul agar tidak semakin parah.
“Ini penambalan, Alhamdulillah berjalan lancar dengan ketinggian air enggak terlalu tinggi banget, ya, kita antisipasi saja jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ucap jelas Koordinator Lapangan (Korlap) SDA Kecamatan Penjaringan, Suryadi ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Jumat.
Proses penambalan dilakukan dengan menutup area tengah tanggul yang sudah keropos dan berlubang dengan karung berisikan pasir.
Dengan adanya pasir diharapkan air laut tak lagi tumpah ke daratan dan menyebabkan genangan.
Setelah ditambal dengan pasir, maka petugas akan menutupnya dengan semen agar semakin kuat.
Penambalan tanggul itu sudah rampung dikerjakan selama dua hari oleh 35 petugas SDA dari Kecamatan Penjaringan.
Dalam dua hari itu, para petugas setidaknya menambal empat titik tanggul yang mengalami kebocoran parah.
Solusi darurat
Peneliti dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Budi Heru Santosa, mengatakan penambalan tanggul dengan pasir merupakan solusi darurat yang boleh saja dilakukan.
“Itu adalah solusi darurat, yang permanen memerlukan effort yang lebih besar,” ujar Budi.
Pasalnya, untuk melakukan perbaikan secara permanen maka perlu anggaran yang harus direncanakan terlebih dahulu dan memerlukan waktu sehingga perbaikan sementara tetap harus dilakukan.
Namun Budi mengingatkan, meski hanya perbaikan sementara maka harus dipastikan tanggul tak lagi mengalami kebocoran.
Ke depannya tanggul yang bocor itu harus ditangani dengan sungguh-sungguh karena jika tidak, kerusakan akan semakin parah.
Ada beberapa risiko yang berpotensi terjadi jika tanggul bocor itu tak diperbaiki secara maksimal. Salah satunya akan terjadi piping atau erosi internal.
“Rembesan menggerus tanah dasar tanggul, terutama pada lokasi yang pondasinya kurang dalam sehingga akan membentuk rongga yang memicu terjadinya gagal struktur. Akibatnya tanggul bisa saja ambruk mendadak,” ujar Budi.
Lalu, risiko selanjutnya adalah terjadi degradasi struktur dimana air laut yang merembas ke dalam struktur beton bertulang akan mempercepat korosi sehingga akan membuat tanggul mudah sekali rapuh.
Penanganan
Selain ditambal dengan pasir, ada beberapa cara yang bisa dilakukan Pemprov DKI Jakarta dalam menangani tanggul bocor itu.
Misalnya, dengan melakukan grouting dan pemasangan sheet pile pada titik tanggul yang bocor agar tidak semakin parah.
Lalu, Pemprov DKI Jakarta juga wajib melakukan monitoring dengan inspeksi rutin ke tanggul laut yang sudah ditambal.
Dengan adanya inspeksi rutin pemerintah bisa lebih cepat tahu apabila ada kebocoran atau kerusakan pada tanggul sehingga bisa segera diperbaiki.
Lalu, pemerintah juga diminta untuk melibatkan warga sekitar dalam memonitoring tanggul.
Peringatan untuk waspada
Pengamat Tata Kota M Azis Muslim mengatakan, berbagai upaya memang harus dilakukan untuk memperbaiki tanggul yang bocor di Muara Baru.
Sebab, kondisi bocornya tanggul itu dinilai menjadi peringatan dini agar warga dan pemerintah Jakarta bisa lebih waspada.
“Situasi ini bisa menjadi semacam peringatan dini untuk melakukan audit terhadap seluruh tanggul yang diharapkan bisa menjadi pencegah aliran air laut ketika pasang,” tutur Azis.
Seharusnya, kata Azis, ketika tanggul Pantai Mutiara bocor beberapa minggu lalu, pemerintah langsung melakukan monitoring terhadap seluruh tanggul di Jakarta.
Kebocoran tanggul sendiri merupakan bukti bahwa perawatan yang dilakukan pemerintah belum efektif sehingga beton itu tak maksimal dalam menghalau air laut agar tidak tumpah ke daratan.
Ke depannya Azis menyarankan agar pemerintah melibatkan masyarakat sekitar dalam memonitoring tanggul di Jakarta.
Masyarakat diminta untuk segera melapor ke Pemprov Jakarta apabila menemukan tanggul yang bocor atau rusak.
Dengan begitu, pemerintah terbantu dalam menjaga kualitas tanggul di Jakarta agar tak lagi mengalami kerusakan atau kebocoran.
Perbaikan tanggul memang harus segera dilakukan karena pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menjaga keselamatan warganya.
“Kita berharap pemerintah bisa hadir untuk segera menjaga ketentraman dan keterangan warga dengan melakukan upaya-upaya yang memjamin kualitas dari tanggul yang memang sudah dibangun oleh dana dari masyarakat melalui pajak dan lain sebagainya,” jelas Azis.
Azis menyarankan, peristiwa tanggul bocor selama bertahun-tahun tidak lagi didiamkan begitu saja oleh pemerintah karena bisa berdampak fatal untuk Jakarta.
Dr. Muh Azis Muslim, M.Si. Dosen Ilmu Administrasi Negara
Sumber: https://megapolitan.kompas.com/read/2025/12/08/11354391/warga-takut-tanggul-muara-baru-jebol-meski-sudah-ditambal-pakai-pasir?page=all#page2



