Jakarta, 10 November 2025 — Bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, Prof. Dr. Teguh Kurniawan, S.Sos., M.Sc, Dosen sekaligus Wakil Dekan bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI), menegaskan bahwa pendekatan Ko-kreasi (Co-creation) sangat layak untuk dijadikan strategi utama dalam meningkatkan perekonomian daerah di Indonesia.
Prof. Teguh Kurniawan, yang juga menjabat sebagai Ketua Tim 2 Ekspedisi Patriot UI untuk Kawasan Transmigrasi Palolo, menyampaikan pandangan ini sebagai narasumber dalam sesi In Motion Talk pada kegiatan Transmigrasi Update Forum 2025. Acara ini diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia. Sesi yang dibawakan Prof. Teguh mengangkat tema Adaptive Localism: Kolaborasi untuk Ekonomi Tangguh Berdaya Saing.
Dalam paparannya, Prof. Teguh Kurniawan menekankan bahwa co-creation menawarkan pendekatan yang lebih partisipatif, inklusif, dan kontekstual untuk menghadapi tantangan tata kelola kontemporer, terutama dalam konteks desa dan transmigrasi. Pendekatan ini dinilai lebih mutakhir daripada model Triple/Quadruple Helix yang cenderung elitis dan berfokus pada struktur formal.
Landasan pemikiran ini didukung oleh dua hasil kajian utama, yaitu GoGreen Project dan Ekspedisi Patriot UI (TEP UI). GoGreen Project merupakan riset kolaborasi global yang dipimpin oleh Prof. Jacob Torfing dan Prof. Eva Sorensen dari Roskilde University bersama Prof. Chris Ansell, dengan Prof. Teguh sebagai Team Leader untuk GoGreen Project Indonesia. Sementara itu, Ekspedisi Patriot UI (TEP UI) merupakan kajian empiris di Kawasan Transmigrasi (KT) Palolo, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, yang menghasilkan Desain Model Kolaborasi Kelembagaan Ekonomi sebagai output utama.
Co-creation, yang merupakan bagian dari Tata Kelola Kolaboratif (Collaborative Governance), melibatkan berbagai aktor, termasuk pemerintah, ilmuwan, swasta, dan aktor akar rumput (lay actors) seperti warga dan komunitas, dalam aksi terdistribusi untuk memecahkan masalah. Tujuannya adalah merangsang pembelajaran bersama (mutual learning) dan inovasi dari bawah ke atas (bottom-up innovation).
Perbedaan utamanya terletak pada tujuan, di mana co-creation berfokus pada penciptaan solusi inovatif yang berangkat dari kebutuhan nyata dan didukung secara luas, sedangkan co-production lebih menekankan pada mobilisasi kompetensi untuk melaksanakan solusi yang telah ditentukan sebelumnya.
Kajian Tim TEP Universitas Indonesia (UI) menyoroti potensi besar kawasan strategis Palolo seluas 57.570,030 hektare di Kabupaten Sigi. Wilayah ini memiliki komoditas unggulan seperti kopi, kakao, vanili, anggrek, hortikultura, dan peternakan, yang dikelompokkan sebagai “Emas Hijau” (kopi, kakao, vanili, kemiri) serta “Emas Tersembunyi” (anggrek dan ekowisata berbasis konservasi). Potensi tersebut dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal berbasis sumber daya berkelanjutan.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, tim UI mengusulkan penerapan Integrated Institutional Economic Development Model (IIEDM), yaitu model pengembangan terpadu yang menggabungkan empat pendekatan—New Institutional Economics (NIE), Social Capital (SC), Economic Regional Development (ERD), dan Local Economic Development (LED). Model ini menekankan pentingnya sinergi antara kekuatan jejaring sosial masyarakat dengan kebijakan kelembagaan yang adaptif guna mewujudkan pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Palolo.
Strategi taktis co-creation di Palolo mencakup beberapa langkah utama. Pertama, mengaktifkan Forum Kemitraan Multipihak (FKMP) Sigi Hijau sebagai platform kelembagaan resmi untuk menjalankan fungsi metagovernance dan menekan transaction costs. Kedua, mengoptimalkan peran inovator lokal seperti Gampiri Interaksi Lestari dan RaRe Koffie sebagai laboratorium inovasi untuk praktik berkelanjutan dan pelatihan kelompok tani.
Selain itu, strategi ini menekankan pentingnya inklusi dan pemberdayaan aktor rentan, terutama Kelompok Tani Pemula, serta penguatan hilirisasi melalui sistem agroforestry dan dukungan bagi IKM lokal. Terakhir, implementasi dilakukan dengan skema pembiayaan gabungan (blended financing) yang mengintegrasikan sumber dana pemerintah, petani, dan sektor swasta.
Prof. Teguh Kurniawan menegaskan bahwa keberhasilan kolaborasi jangka panjang bergantung pada systemic co-creation, yang mencakup joint problem framing, joint solution design, dan shared implementation. Ia mengibaratkan model co-creation sebagai sebuah orkestra, di mana pemerintah melalui FKMP berperan sebagai konduktor yang memastikan setiap instrumen—dinas, swasta, dan petani—bermain selaras untuk mencapai harmoni.
Menurutnya, meskipun setiap pihak memiliki peran dan agenda berbeda, ketergantungan bersama (interdependence) akan menciptakan simfoni solusi yang berkelanjutan. Keberhasilan kolaborasi di Palolo diukur dari peningkatan pendapatan petani, perbaikan lingkungan regeneratif, serta kemampuan kelembagaan untuk terus belajar dan beradaptasi.




