Rumah Susun (Rusun) Klender di Kelurahan Malaka Sari, Duren Sawit, Jakarta Timur, dinilai membutuhkan penanganan yang jauh lebih serius dibanding sekadar renovasi kosmetik. M Azis Muslim, dosen Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Indonesia, menyebut kondisi rusun tersebut saat ini mencerminkan tantangan yang lazim dihadapi hunian vertikal generasi pertama di Jakarta.
Menurut Aziz, persoalan yang membelit Rusun Klender tidak hanya berkutat pada fisik bangunan yang semakin menua, tetapi juga menyangkut tata kelola, kepastian hukum, serta pemanfaatan lahan yang kini bernilai sangat strategis. Ia mengingatkan bahwa saat dibangun pada era 1980-an, rusun ini punya misi yang jelas, yakni memindahkan warga dari permukiman padat menuju hunian vertikal yang lebih tertata dan layak.
Dari sudut pandang teknik bangunan, Azis menjelaskan bahwa usia Rusun Klender saat ini telah melampaui siklus pemeliharaan besar pertamanya. Bangunan bertingkat, menurutnya, idealnya menjalani audit struktur secara berkala, apalagi setelah memasuki usia sekitar 25 tahun. Sejumlah aspek yang perlu dicermati antara lain potensi korosi pada tulangan bangunan, kebocoran, hingga munculnya beban tambahan akibat renovasi-renovasi yang dilakukan penghuni selama puluhan tahun terakhir.
Tak hanya struktur, berbagai utilitas di kawasan tersebut juga dinilai sudah tidak lagi sesuai dengan kebutuhan penghuni pada 2026. Karena itu, Azis menegaskan bahwa persoalan di Rusun Klender tidak bisa diselesaikan hanya lewat perbaikan-perbaikan kecil, mengingat usia bangunan sudah memasuki fase yang menuntut evaluasi menyeluruh — bukan sekadar renovasi tambal sulam.
Sumber: Kompas.com



