Pada program CAKEPP yang tayang di kanal Youtube TVOneNews, Pakar Kebijakan Publik, Dr. Vishnu Juwono, yang juga Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI), menyoroti kontroversi terkait program barak militer bagi siswa yang dianggap nakal. Kebijakan ini dibuat oleh Gubernur Jawa Barat, dengan tujuan untuk pembinaan karakter bukan untuk hukuman.

Menurutnya, hadirnya kebijakan yang kontroversial ini menuai pro dan kontra di masyarakat dan pengamat hak asasi manusia. Publik mempertanyakan apakah ini solusi atau bentuk dari kekerasan yang dilegalkan, sehingga dapat menimbulkan trauma psikologis kepada siswa yang mengikuti kegiatan tersebut.

“Beberapa negara telah menerapkan kebijakan serupa, seperti Jepang dengan pelatihan ketat untuk rehabilitasi remaja pelanggar hukum, Thailand dan Belarus yang mengirim remaja ke kamp militer untuk menanamkan disiplin dan patriotisme, serta Somalia yang menempatkan anak nakal di kamp militer meski sering disertai kekerasan dan kondisi buruk,” Ungkap Dr. Vishnu.

Dr. Vishnu menyampaikan bahwa anak yang terlibat tawuran umumnya korban dari sistem sosial yang rapuh, keluarga disfungsional, tekanan di lingkungan an minimnya ruang aman dalam berekspresi.

“Kebijakan ini terlalu fokus pada gejala bukan akar masalah, tanpa perbaikan sistem pendidikan, ruang publik remaja, dan peran keluarga. Tindakan disipliner hanya memunculkan efek jera sesaat tanpa adanya perubahan perilaku berkelanjutan,” Lanjut Dr. Vishnu.

Dr. Vishnu mengusulkan tiga hal penting. Pertama, membentuk pusat pemulihan perilaku remaja di setiap kota besar melalui kolaborasi antara dinas pendidikan, dinas sosial, psikolog, dan aparat keamanan, dengan pendekatan yang mencakup pendampingan psikologis, pelatihan vokasional, dan rekonsiliasi keluarga.

Kedua, pemerintah provinsi diminta menyusun peta risiko kenakalan remaja berbasis data sekolah dan wilayah melalui sistem digital terintegrasi antara sekolah, kelurahan, dan puskesmas.

“Ketiga, barak militer atau kepolisian dijadikan opsi terakhir dalam penanganan remaja bermasalah, dengan pendekatan rehabilitatif yang bersifat sukarela dan didasarkan pada asesmen profesional yang adaptif terhadap keragaman karakter anak,” Jelasnya.

Dr. Vishnu menyimpulkan bahwa tidak semua anak cocok dengan pendekatan yang keras. Kebijakan publik harus adaptif terhadap keragaman karakter dan latar belakang sosial anak -anak. Disiplin merupakan suatu hal penting, tapi membentuk karakter anak bangsa tidak bisa hanya dengan ketekasan, apalagi paksaan. Perlu kehadiran negara yang cerdas, empatik, dan mampu membaca akar masalah secara utuh.