Naratif, Inovasi Sosial, dan Manajemen Pengetahuan Jadi Fondasi Keunggulan Kompetitif Berkelanjutan di Era Disrupsi
Depok, 26 November 2025 — Plenary Session III bertajuk “Building Sustainable Competitive Advantage through Narrative Economics, Social Innovation, and Knowledge Management” menghadirkan tiga pemikir internasional yang menegaskan bahwa keunggulan bisnis di era VUCA dan kecerdasan buatan tidak lagi hanya ditentukan oleh modal finansial dan teknologi, tetapi oleh kekuatan naratif, kolaborasi sosial, dan peran manusia dalam penciptaan pengetahuan.
Sesi ini menghadirkan Prof. TU Niangen (Jiangxi University of Finance and Economics) dengan tema Narrative Economics: A New Paradigm for Building Sustainable Competitive Advantage; Prof. Retno K. Hardjono (Faculty of Administrative Science, Universitas Indonesia) dengan Social Innovation in Business Competitiveness; serta Prof. Ayano Hirose (Rikkyo University) dengan The Role of Knowledge Management in Business Competitiveness (Lessons from Japan).
Dalam pemaparannya, Prof. TU Niangen menyampaikan bahwa ekonomi naratif telah menjadi modal strategis baru dalam persaingan global. Di tengah pasar yang homogen dan perubahan yang cepat, sumber keunggulan tidak lagi bergantung pada skala produksi dan investasi fisik, melainkan pada kemampuan perusahaan membangun narasi yang memengaruhi persepsi publik, mendorong preferensi pasar, dan membentuk standar industri. Ia menekankan perlunya manajemen naratif empat lapis—kepercayaan, strategi, eksekusi, dan kesejahteraan—agar perusahaan mampu memaksimalkan kekuatan emosional narasi untuk menciptakan resonansi sosial dan keunggulan jangka panjang.
Senada dengan itu, Prof. Retno K. Hardjono menyoroti pentingnya inovasi sosial sebagai elemen strategis dalam meningkatkan daya saing bisnis, terutama di Indonesia. Menurutnya, inovasi sosial yang melibatkan kolaborasi multi-aktor dari sektor publik, swasta, dan masyarakat mampu menghasilkan solusi proaktif terhadap isu sosial dan lingkungan, sekaligus memperkuat reputasi perusahaan, menarik talenta unggul, dan memperkokoh rantai pasok. Ia menambahkan bahwa aktivitas inovasi sosial juga membuka peluang pendanaan melalui skema CSR dan dapat berkontribusi pada efisiensi perpajakan melalui pengakuan biaya deductible, sehingga memberikan insentif sekaligus dampak sosial nyata.
Sementara itu, Prof. Ayano Hirose menekankan bahwa terlepas dari pesatnya kemajuan teknologi dan adopsi kecerdasan buatan, manusia tetap merupakan inti dari inovasi pengetahuan. Empati, kreativitas, naratif, dan kebijaksanaan praktis menjadi kekuatan pembeda yang tidak dapat direplikasi oleh algoritma. Ia menjelaskan model SECI (sosialisasi, eksternalisasi, kombinasi, internalisasi) sebagai pendekatan untuk menggabungkan pengetahuan tacit dan eksplisit dalam proses penciptaan inovasi. Praktik-praktik industri di Jepang menunjukkan bahwa kedalaman interaksi manusia, bukan hanya data, menjadi sumber lahirnya ide strategis yang mampu memperkuat daya saing organisasi.
Diskusi mengerucut pada satu benang merah: keunggulan kompetitif berkelanjutan membutuhkan pendekatan kolaboratif yang memadukan narasi strategis, nilai-nilai sosial, dan manajemen pengetahuan berbasis kemanusiaan. Ketiga pembicara sepakat bahwa kolaborasi antara sektor bisnis, pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi prasyarat penting untuk menciptakan nilai bersama yang berdampak pada bisnis sekaligus kesejahteraan sosial.
Sebagai tindak lanjut sesi, para narasumber dan penyelenggara berkomitmen memperkuat kerja sama riset dan pertukaran pengetahuan di bidang inovasi sosial, ekonomi naratif, dan manajemen pengetahuan, termasuk pengembangan studi kasus dan penerapan model pada konteks Indonesia. FIA UI akan menyiapkan distribusi rekaman sesi dan materi pembahasan sebagai referensi lanjutan bagi peserta dan pemangku kepentingan.



