Pakar pajak internasional, Professor Lee Burns hadir mengisi kuliah umum dan pertemuan kolaborasi di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) membahas reformasi pajak internasional.
Ekonomi global saat ini tengah menyaksikan pergeseran paradigma dalam perpajakan internasional, didorong oleh inisiatif Base Erosion and Profit Shifting (BEPS) 1.0 dan 2.0. Reformasi ini bertujuan untuk mengatasi tantangan perpajakan di era ekonomi digital dan memerangi praktik penghindaran pajak yang merugikan.
Acara ini dibuka oleh sambutan dari Dekan FIA UI, Prof. Dr. Dra. Retno Kusumastuti Hardjono. M.Si.
“Seperti yang kita ketahui, pajak internasional adalah topik yang sangat dinamis dalam perpajakan, terutama di dunia yang saling terhubung secara global. Transaksi lintas batas dan perusahaan multinasional menciptakan kompleksitas yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan menggunakan undang-undang pajak domestik,” jelasnya.
Prof. Lee mengawali presentasinya dengan menguraikan latar belakang proyek BEPS yang dimulai pada tahun 2013 dengan 15 aksi yang digagas oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD). Proyek ini bertujuan mengatasi erosi basis pajak dan pengalihan keuntungan yang dilakukan oleh perusahaan multinasional. Evolusi BEPS kini mencapai BEPS 2.0, yang secara spesifik berfokus pada ekonomi digital melalui Pilar 1 dan pajak minimum global melalui Pilar 2.
Salah satu poin krusial yang dibahas adalah implikasi GMT terhadap insentif pajak. Professor Burns menekankan bahwa insentif berbasis laba seperti tax holiday atau tarif pajak rendah akan menjadi bermasalah karena dapat mengurangi tarif pajak efektif di bawah 15%. Sebaliknya, insentif berbasis biaya, seperti depresiasi dipercepat, masih dapat dipertahankan asalkan dikelola dengan benar dan perbedaan waktu yang dihasilkan terbalik dalam lima tahun.
“Dilema antara kompetisi pajak untuk menarik investasi dan kebutuhan akan peningkatan pendapatan sangat terasa di ASEAN. Bahkan ketika Indonesia, Malaysia, dan Thailand mendesain ulang insentif pajak agar kompatibel dengan GMT, keinginan regional untuk tax holiday tetap kuat,” Jelas Prof. Lee
Professor Burns menutup dengan menyoroti kompleksitas implementasi GMT, termasuk beban administratif yang tinggi bagi negara berkembang, serta tantangan dalam mengelola kredit pajak yang dapat dikembalikan (refundable tax credit) dan pemantauan perbedaan temporer.
Setelah kuliah umum, FIA UI dan Prof. Lee Burns melanjutkan diskusi dalam sebuah pertemuan kolaborasi yang berlangsung di Smart Class, Lantai 3. Pertemuan ini difokuskan pada pembahasan kerja sama internasional antara FIA UI, Profesor Lee Burns, dan University of Sydney, dengan tujuan utama untuk memajukan FIA di kancah global serta mengembangkan program-program internasional baru yang dapat diikuti oleh para mahasiswa.
Dalam sesi kolaborasi ini, topik-topik spesifik yang dibahas meliputi potensi kerja sama riset dan publikasi antara FIA UI dan University of Sydney, pembentukan program kelas internasional untuk mahasiswa sarjana, serta upaya-upaya improvisasi kurikulum bahasa Inggris.
Pertemuan kolaborasi ini mendapat dukungan penuh dari Dekan FIA UI, dengan harapan semua kegiatan yang direncanakan dapat memberikan dampak yang baik bagi FIA dan UI. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Departemen Ilmu Administrasi Fiskal, Koordinator Internasional Office FIA UI, dan beberapa dosen pengajar.



