Depok, 13 Agustus 2026 – Klaster Riset Policy, Governance, and Administrative Reform (PGAR) Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) kembali menyelenggarakan Brown Bag Discussion (BBD) Edisi ke-5 dengan mengangkat topik “Beyond the Western Paradigm: How Indonesia Navigates China’s BRI & Asymmetric Policy Capabilities.” Kegiatan ini menghadirkan Dr. Amanda Tho Seeth, akademisi dari Humboldt-Universität zu Berlin, Jerman, sebagai pembicara.
Diskusi interaktif ini dihadiri oleh akademisi dari berbagai latar belakang keilmuan di Universitas Indonesia, di antaranya Ketua Dewan Guru Besar Universitas Indonesia Prof. Dr. Eko Prasojo, mag.rer.publ., Guru Besar Ilmu Administrasi Niaga UI Prof. Dr. Martani Huseini, Dosen Program Studi Ilmu Administrasi Negara UI Dr. phil. Defny Holidin dan Dr.rer.pol. Desy Hariyati, serta Prof. Dr.phil. Aditya Permana dari Ilmu Politik UI. Kegiatan juga diikuti oleh belasan peserta secara luring dan puluhan peserta secara daring.
Diskusi membahas bagaimana Indonesia merespons dan menavigasi perkembangan geopolitik dan geo-ekonomi Tiongkok, khususnya melalui Belt and Road Initiative (BRI), serta implikasinya terhadap kebijakan dan tata kelola di Indonesia. Pembahasan tidak hanya melihat pengaruh Tiongkok dalam pembangunan infrastruktur dan kerja sama ekonomi, tetapi juga menyoroti perkembangan diplomasi kultural, infrastruktur pendidikan, serta pengaruhnya terhadap arah reformasi birokrasi nasional.
Dalam diskusi, turut dibahas adanya asimetri kapasitas kelembagaan (asymmetric institutional capabilities) dalam relasi Indonesia-Tiongkok. Perbedaan kapasitas tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memahami dinamika perumusan kebijakan di Indonesia, termasuk munculnya dorongan terhadap proses pembuatan kebijakan yang lebih cepat (fast-track policy making) melalui narasi efisiensi.
Dimensi diplomasi kultural juga menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian. Diplomasi tersebut dinilai mampu membangun narasi positif mengenai kerja sama dan bantuan pembangunan, namun pada saat yang sama perlu dilihat secara kritis dalam kaitannya dengan perbedaan penerapan kebijakan pada konteks domestik dan eksternal.
Dari perspektif ekonomi, media, dan budaya, diskusi turut menyoroti upaya Tiongkok dalam membangun infrastruktur kultural di Indonesia. Respons terhadap perkembangan tersebut tidak bersifat tunggal, termasuk adanya perbedaan perspektif antargenerasi dalam memandang dinamika sosial dan politik yang berkaitan dengan hubungan Indonesia dan Tiongkok.
Dalam menghadapi perkembangan tersebut, prinsip politik luar negeri Bebas Aktif tetap menjadi salah satu landasan penting bagi Indonesia. Prinsip ini memberikan ruang bagi Indonesia untuk membangun kerja sama dengan berbagai negara sekaligus menjaga keseimbangan hubungan internasional dan mencegah dominasi satu kekuatan.
Melalui Brown Bag Discussion Edisi ke-5, PGAR FIA UI terus mendorong ruang pertukaran gagasan yang mempertemukan berbagai perspektif keilmuan dalam memahami perubahan lingkungan strategis.
Di akhir sesi, diskusi ini juga bermuara pada pentingnya keseimbangan antara pragmatisme, idealisme, dan realisme dalam merespons tantangan deformasi atau reformasi kelembagaan di Indonesia.



