Depok, 15 Juni 2026 – Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) menyelenggarakan kegiatan Book Talk bertajuk Growth of a Megacity: Planning Jakarta in the Post-Suburban Era di Smartclass, Gedung M Lantai 3, Kampus FIA UI Depok. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Deden Rukmana dari University of Texas at Arlington sebagai penulis buku sekaligus pakar perencanaan kota yang banyak meneliti perkembangan kawasan perkotaan di Indonesia dan negara-negara Global South.
Dalam pemaparannya, Prof. Deden menjelaskan bahwa Jakarta telah berkembang menjadi kawasan megapolitan Jabodetabek yang memasuki era post-suburban, yaitu fase ketika wilayah-wilayah penyangga tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Jakarta sebagai pusat pertumbuhan. Perkembangan tersebut ditandai dengan perluasan pembangunan secara horizontal maupun vertikal yang berlangsung lintas batas administrasi dan melibatkan banyak aktor, terutama sektor swasta.
Menurut Prof. Deden, kondisi tersebut menghadirkan tantangan baru dalam tata kelola perkotaan. Pembangunan yang tidak terintegrasi berpotensi memperlebar kesenjangan antarwilayah, memperkuat segregasi sosial, serta memunculkan berbagai persoalan lingkungan dan penyediaan ruang publik. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan metropolitan yang lebih terkoordinasi, melibatkan berbagai tingkat pemerintahan, serta mengedepankan prinsip keadilan sosial dan keberlanjutan.
Diskusi juga menyoroti karakteristik megacity yang banyak berkembang di negara-negara Global South. Selain menghadapi laju urbanisasi yang tinggi, kota-kota besar juga dituntut untuk mampu mengelola dualisme perkotaan antara kawasan formal yang berkembang pesat dan kawasan informal yang kerap terpinggirkan dari proses pembangunan. Dalam konteks tersebut, partisipasi masyarakat serta penguatan ketahanan kota terhadap perubahan iklim dan kenaikan muka air laut menjadi aspek penting dalam tata kelola perkotaan.
Menanggapi pemaparan tersebut, Guru Besar FIA UI Prof. Dr. Irfan Rifwan Maksum, M.Si. menekankan pentingnya melihat perencanaan kota tidak hanya dari aspek substantif seperti tata kelola, ekonomi, politik, dan sosial budaya, tetapi juga dari aspek prosedural yang berkaitan dengan administrasi dan birokrasi pemerintahan. Menurutnya, pendekatan administrasi publik dapat melengkapi berbagai kajian substantif dalam perencanaan pembangunan kawasan metropolitan.
Sementara itu, Hilarion Hamjen dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti berbagai tantangan pembangunan perkotaan, mulai dari desentralisasi, privatisasi pembangunan, isu lingkungan, hingga meningkatnya segregasi sosial akibat dominasi sektor swasta dalam pengembangan kawasan perkotaan. Diskusi juga mengangkat relevansi pengalaman Jakarta bagi pengembangan kawasan perkotaan lain di Indonesia, termasuk pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Melalui sesi diskusi dan tanya jawab, para peserta turut membahas berbagai isu strategis seperti mitigasi bencana di kawasan metropolitan, pemanfaatan aset negara pasca pemindahan ibu kota, hingga tantangan koordinasi lintas wilayah dalam tata kelola perkotaan. Diskusi menegaskan bahwa penyelesaian persoalan perkotaan tidak dapat dilakukan secara sektoral, melainkan memerlukan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen FIA UI untuk menghadirkan ruang diskusi akademik yang mendorong pengembangan pengetahuan dan solusi atas berbagai tantangan kebijakan publik, termasuk dalam bidang tata kelola perkotaan dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.



