Depok, 7 Juli 2026 – Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk “Robust Governance in Turbulent Times” di Smart Class, Gedung M FIA UI. Kegiatan ini menghadirkan dua akademisi dari Roskilde School of Governance, Roskilde University, Denmark, yakni Prof. Jacob Torfing dan Prof. Eva Sorensen, yang berbagi perspektif mengenai pentingnya membangun tata kelola pemerintahan yang adaptif, kolaboratif, dan inovatif dalam menghadapi berbagai tantangan publik di era yang penuh ketidakpastian. 

Dalam sesi kuliah tamu, kedua narasumber membahas dinamika tata kelola pemerintahan di tengah kondisi global yang semakin kompleks, mulai dari perubahan sosial, transformasi digital, hingga berbagai tantangan yang sulit diprediksi. Diskusi menekankan pentingnya pendekatan tata kelola yang mampu beradaptasi terhadap perubahan, memperkuat kolaborasi lintas aktor, serta mendorong inovasi publik sebagai bagian dari upaya menghasilkan kebijakan yang lebih efektif dan responsif. 

Salah satu konsep yang menjadi fokus pembahasan adalah robust governance, yaitu kemampuan sistem tata kelola untuk tetap menjalankan fungsi, tujuan, dan nilai-nilai utamanya ketika pendekatan konvensional tidak lagi memadai. Pendekatan ini menggabungkan unsur resiliensi dan kelincahan (agility), sehingga pemerintah tidak hanya mampu bertahan menghadapi perubahan, tetapi juga memanfaatkan berbagai tantangan sebagai peluang untuk melakukan inovasi dan perbaikan tata kelola. 

Melalui studi kasus penanganan pandemi COVID-19 di Denmark, peserta memperoleh gambaran mengenai keterbatasan berbagai pendekatan tata kelola tradisional dalam menghadapi situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pemerintah dituntut untuk mampu beradaptasi secara cepat, mengambil keputusan di tengah keterbatasan informasi, serta mengembangkan solusi yang kreatif sesuai dengan dinamika yang dihadapi. 

Selain itu, diskusi juga menyoroti sejumlah strategi untuk memperkuat robust governance, seperti penetapan tujuan yang jelas, pembangunan ruang kolaborasi yang fleksibel, penyediaan kapasitas cadangan, pemberian otonomi dalam pengambilan keputusan di tingkat lokal, serta pemanfaatan sumber daya secara kreatif. Sebagai ilustrasi, narasumber mengangkat Finger Plan di Kopenhagen sebagai contoh kebijakan tata ruang yang dirancang secara adaptif sehingga mampu tetap relevan dan menjadi pedoman pembangunan metropolitan selama puluhan tahun. 

Melalui kegiatan ini, FIA UI kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan forum akademik bertaraf internasional yang mempertemukan sivitas akademika dengan para pakar internasiona. Kegiatan ini diharapkan dapat memperluas wawasan sekaligus mendorong pengembangan praktik tata kelola pemerintahan yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berdampak dalam menjawab tantangan publik di masa depan. 

Leave a Comment