Depok, 24 April 2026 — Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk Dinamika Ketenagakerjaan di Tengah Transformasi Ekonomi dengan menghadirkan Prof. Anwar Sanusi, Ph.D., Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, sebagai narasumber utama. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi strategis mengenai tantangan dan arah kebijakan ketenagakerjaan nasional di tengah perubahan struktur ekonomi dan percepatan digitalisasi.
Dalam paparannya, Prof. Anwar Sanusi menjelaskan bahwa kondisi ketenagakerjaan Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan mendasar. Tingkat pengangguran terbuka pada Agustus 2025 tercatat sebesar 4,85 persen, sementara pekerja sektor informal masih mendominasi sebesar 57,80 persen dibandingkan sektor formal sebesar 42,20 persen. Selain itu, kualitas pendidikan angkatan kerja juga masih menjadi perhatian, di mana lebih dari separuh tenaga kerja Indonesia berpendidikan SMP ke bawah.
Ia menegaskan bahwa transformasi ekonomi digital membawa dampak besar terhadap pasar kerja. Otomatisasi dan kecerdasan artifisial diperkirakan akan mengurangi kebutuhan pada pekerjaan-pekerjaan repetitif, terutama di sektor manufaktur dan administrasi. Namun di sisi lain, perkembangan teknologi juga membuka peluang munculnya profesi baru seperti pengembang perangkat lunak, analis data, dan spesialis keamanan siber.
Kuliah tamu ini juga menyoroti meningkatnya fenomena ekonomi gig di Indonesia sebagai implikasi dari digitalisasi. Jumlah pekerja gig penuh waktu meningkat dari 2,3 juta orang pada 2019 menjadi 4,4 juta orang pada 2024. Meski menawarkan fleksibilitas, model kerja ini juga menghadirkan tantangan berupa ketidakpastian pendapatan, hubungan kerja non-standar, minimnya perlindungan sosial, serta risiko skill trap.
Dalam konteks perlindungan tenaga kerja, Prof. Anwar memaparkan pentingnya perluasan jaminan sosial bagi pekerja informal dan pekerja gig melalui skema BPJS Ketenagakerjaan. Menurutnya, pendekatan kolaboratif, digitalisasi layanan, serta kemitraan dengan berbagai platform ekonomi digital menjadi langkah penting untuk memastikan pekerja non-formal memperoleh perlindungan yang layak.
Selain isu ketenagakerjaan digital, pembahasan juga menekankan tantangan skill mismatch antara kebutuhan industri dan kompetensi tenaga kerja. Indonesia masih menghadapi kesenjangan keterampilan yang signifikan, sehingga penguatan link and match antara pendidikan, pelatihan vokasi, dan kebutuhan pasar kerja menjadi agenda penting ke depan. Balai Latihan Kerja (BLK), sistem informasi pasar kerja, dan peningkatan kualitas SDM dinilai menjadi instrumen strategis dalam menjawab tantangan tersebut.
Pada sesi akhir, Prof. Anwar menyoroti pentingnya menciptakan meaningful work bagi generasi muda, khususnya Generasi Z dan milenial. Menurutnya, generasi muda kini tidak hanya mencari pekerjaan dari sisi penghasilan, tetapi juga mempertimbangkan makna, dampak sosial, dan kesesuaian nilai dengan tempat kerja. Oleh karena itu, dunia kerja masa depan perlu dibangun dengan budaya organisasi yang sehat, inklusif, dan mendukung kesejahteraan pekerja.
Melalui kegiatan ini, FIA UI menegaskan komitmennya dalam menghadirkan ruang akademik yang responsif terhadap isu-isu strategis nasional. Kuliah tamu ini diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai transformasi ketenagakerjaan, sekaligus mendorong lahirnya gagasan kebijakan yang adaptif, inklusif, dan berorientasi pada pengembangan potensi manusia Indonesia.



