Klaster Riset Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) yaitu PGAR (Public Governance and Administrative Reform), mengadakan Brown Bag Discussion (BBD) seri kedua. Membahas mengenai pentingnya peran humaniora dalam pengembangan tata kelola pemerintahan dan administrasi publik. Kali ini PGAR mengundang ahli tata kelola pemerintahan dan administrasi publik internasional, Prof. Edoardo Ongaro.
BBD seri kedua ini menyoroti isu sentral bahwa pendekatan dalam administrasi publik selama ini terlalu didominasi oleh kerangka kerja positivistik dan teknokratis yang cenderung mengabaikan aspek nilai, makna, serta dimensi kemanusiaan dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan kebijakan publik.
“Hal ini menciptakan kesenjangan serius antara aspek teknis dari ilmu kebijakan dan pemahaman yang lebih reflektif terhadap kehidupan publik serta nilai-nilai yang dikandungnya,” Jelas Prof. Edoardo.
Oleh karena itu, Prof. Ongaro menegaskan bahwa pentingnya membangun kerangka konseptual yang lebih holistik untuk mengeksplorasi dan mengintegrasikan ilmu humaniora dalam pengembangan studi dan praktik administrasi publik, bukan sekadar pelengkap bagi ilmu sosial dan kebijakan.
Prof. Ongaro menjelaskan bahwa humaniora selalu penting bagi administrasi publik karena memberikan pemahaman mendalam yang tidak bisa didapatkan dari angka atau teknik saja, serta membentuk cara berpikir kita agar lebih reflektif, kritis, dan etis.
Dengan kata lain, humaniora berperan mencerahkan, mengkritisi, melengkapi kekurangan pendekatan teknis, mengintegrasikan berbagai pandangan, dan membahas isu-isu etika, yang semuanya sangat dibutuhkan untuk menciptakan administrasi yang lebih manusiawi.
Selain alasan-alasan tersebut, Prof. Ongaro juga menekankan bahwa humaniora sangat penting untuk mengatasi tantangan dunia modern. Saat ini, kita menghadapi berbagai krisis yang saling berkaitan dan tidak bisa dipecahkan secara parsial, sehingga para pengambil keputusan butuh cara berpikir yang lebih mendalam, etis, dan sesuai konteks, yang ditawarkan oleh humaniora.
Lalu disampaikan juga, dengan kemajuan pesat teknologi seperti kecerdasan buatan, kita perlu pemahaman filosofis dan nilai-nilai dasar untuk menerapkannya. Terakhir, keberagaman sistem pemerintahan di dunia menuntut pendekatan yang bisa menjembatani perbedaan nilai dan budaya, dan ini hanya bisa dilakukan dengan wawasan humanistik. Singkatnya, humaniora bukan cuma penting untuk masa lalu, tapi juga kunci untuk memecahkan masalah administrasi publik masa kini dan masa depan.
“Humaniora tidak bermaksud menggantikan ilmu sosial, melainkan melengkapinya dengan memperluas dan memperdalam pemahaman kita tentang administrasi publik melalui cara berpikir yang berbeda dari ilmu alam maupun sosial. Kontribusi humaniora ini terlihat dalam empat bentuk administrasi publik, sebagai ilmu yang menggabungkan berbagai bidang, sebagai sebuah profesi, sebagai sebuah seni, dan sebagai bentuk humanisme praktis,” tuturnya.
Prof. Ongaro menyimpulkan presentasinya dengan ajakan untuk mengintegrasikan kembali humaniora dalam administrasi publik. Hal ini penting baik karena alasan historis maupun tantangan zaman sekarang.
Disarankan agar riset gabungan antara humaniora dan ilmu sosial dilakukan untuk menciptakan program pendidikan dan pelatihan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang lebih berwawasan, etis, dan reflektif. Sebagai prinsip utama, Prof. Ongaro mengusulkan Administrasi Publik sebagai Humanisme Praktis, yaitu memandang administrasi publik sebagai kegiatan yang didasari nilai-nilai kemanusiaan universal.



