Jakarta, 8 September 2026 — Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau sempat menjangkau sebagian wilayah Jakarta, padahal sumber bencananya berada jauh di Selat Sunda. Penerbangan terganggu, sekolah beralih ke pembelajaran jarak jauh, dan risiko kesehatan akibat partikulat abu ikut menjadi perhatian. Situasi ini memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa siap Ibu Kota menghadapi bencana yang datang dari luar batas wilayahnya?
Kompas.id mengulas pertanyaan tersebut dengan menghimpun pandangan sejumlah pengamat. Salah satunya adalah dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI), Dr. Muh Azis Muslim, M.Si. Ia menilai Jakarta membutuhkan gambaran yang lebih rinci tentang wilayah dan fasilitas yang berisiko terdampak, yang disusun berdasarkan arah pergerakan abu.
“Harus punya peta sebaran abu vulkanik yang real time,” ujar Azis.
Menurut Azis, peta semacam itu lebih dari sekadar alat pemantauan. Peta tersebut dapat menjadi pijakan pemerintah untuk menentukan prioritas penanganan, terutama di kawasan padat penduduk dan pusat aktivitas ekonomi. Meski begitu, peta saja belum cukup. Azis juga menyinggung seberapa cepat informasi perlu sampai ke pihak-pihak yang berpotensi terdampak, serta perlindungan bagi warga yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan.
Artikel tersebut juga memuat pandangan dari Forum Warga Kota Indonesia dan Ikatan Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota Jawa Barat. Keduanya menyoroti persoalan koordinasi lintas lembaga, kerentanan pasokan air baku, dan jalur logistik yang menopang kebutuhan Jakarta. Ulasan selengkapnya dapat dibaca melalui tautan di bawah ini.
Sumber: Erupsi Anak Krakatau Menguji Ketangguhan Jakarta Hadapi Bencana dari Luar Wilayah



