{"id":28823,"date":"2026-04-17T08:58:53","date_gmt":"2026-04-17T01:58:53","guid":{"rendered":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/?p=28823"},"modified":"2026-07-03T15:14:56","modified_gmt":"2026-07-03T08:14:56","slug":"observer-jakartas-waste-management-must-start-upstream","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/observer-jakartas-waste-management-must-start-upstream\/","title":{"rendered":"Pengamat: Penanganan Sampah Jakarta Harus Dimulai dari Hulu"},"content":{"rendered":"<p>Pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi di Jakarta yang terus meningkat menyebabkan volume sampah kian bertambah dan menjadi persoalan serius.<\/p>\n<p>Pemerintah dinilai perlu menangani persoalan sampah secara menyeluruh hingga tuntas.<\/p>\n<p>Pengamat tata kota, M Azis Muslim, mengatakan selama ini persoalan sampah kerap disorot dari sisi hilir, yakni Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat.<\/p>\n<p>Padahal, menurutnya, penanganan seharusnya dimulai dari hulu atau sumber sampah, seperti rumah tangga.<\/p>\n<p>\u201cSumber sampah itu bisa berasal dari limbah rumah tangga, industri, maupun komersial. Kalau ingin menuntaskan masalah, intervensi harus dilakukan secara berkelanjutan dari sumbernya,\u201d kata Azis saat dikonfirmasi, Kamis (16\/4\/2026).<\/p>\n<p>Ia menilai, TPST Bantargebang saat ini sudah kelebihan kapasitas sehingga tidak mampu lagi menampung sampah dalam jumlah besar, termasuk dari daerah penyangga.<\/p>\n<p>Karena itu, Azis menyarankan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencari alternatif lokasi untuk pengolahan atau penampungan sampah.<\/p>\n<p>\u201cPermasalahan daya tampung ini bisa diatasi dengan mencari lokasi baru yang memungkinkan dijadikan TPST. Selama ini Jakarta masih sangat bergantung pada Bantargebang,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Selain itu, ia menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah tangga agar petugas lebih mudah mengelola sampah organik dan anorganik.<\/p>\n<p>Menurutnya, sampah yang masih memiliki nilai ekonomis bisa dimanfaatkan kembali oleh masyarakat maupun petugas.<\/p>\n<p>\u201cSampah anorganik misalnya, bisa menghasilkan nilai ekonomi. Sementara kendala selama ini juga ada pada volume, waktu, dan rute pengangkutan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Azis menambahkan, permasalahan di hilir sangat bergantung pada kondisi di hulu. Oleh karena itu, peran masyarakat menjadi kunci dalam pengelolaan sampah.<\/p>\n<p>Ia juga mendorong pemerintah untuk menggalakkan program bank sampah hingga tingkat RT dan RW.<\/p>\n<p>Untuk kawasan komersial seperti pasar, Azis menyarankan pengolahan sampah organik melalui teknologi biodigester maupun maggot.<\/p>\n<p>\u201cSampah organik bisa dimanfaatkan menjadi pakan ternak atau pupuk. Jadi perlu dibuat kantong-kantong pengolahan di sumbernya,\u201d tandasnya. (m26)<\/p>\n<p>Sumber: https:\/\/wartakota.tribunnews.com\/jakarta\/887311\/pengamat-penanganan-sampah-jakarta-harus-dimulai-dari-hulu<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi di Jakarta yang terus meningkat menyebabkan volume sampah kian bertambah dan menjadi persoalan serius. Pemerintah dinilai perlu menangani persoalan sampah secara menyeluruh hingga tuntas. Pengamat tata kota, M Azis Muslim, mengatakan selama ini persoalan sampah kerap disorot dari sisi hilir, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":319,"featured_media":28824,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-28823","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28823","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/319"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28823"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28823\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":30555,"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28823\/revisions\/30555"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/28824"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28823"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28823"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28823"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}