{"id":26937,"date":"2025-07-03T18:30:56","date_gmt":"2025-07-03T11:30:56","guid":{"rendered":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/?p=26937"},"modified":"2026-07-03T15:14:59","modified_gmt":"2026-07-03T08:14:59","slug":"doktor-aktivis-perempuan-soroti-strategi-intervensi-akselerasi-kewirausahaan-perempuan-berbasis-komunitas-di-danau-toba","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/doktor-aktivis-perempuan-soroti-strategi-intervensi-akselerasi-kewirausahaan-perempuan-berbasis-komunitas-di-danau-toba\/","title":{"rendered":"Doktor Aktivis Perempuan Soroti Strategi Intervensi Akselerasi Kewirausahaan Perempuan Berbasis Komunitas di Danau Toba"},"content":{"rendered":"<p>Depok, 3 Juli 2025 &#8211; Doktor Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) sekaligus aktivis perempuan, Hadriani Uli Tiur Ida Silalahi, dalam sidang promosi doktornya menyoroti pentingnya strategi intervensi yang disesuaikan untuk mengakselerasi orientasi kewirausahaan perempuan berbasis komunitas di Destinasi Super Prioritas (DSP) Danau Toba. Penelitian ini berangkat dari keprihatinan akan kesenjangan gender dalam kepemilikan dan pengelolaan usaha pariwisata di Danau Toba, meskipun perempuan mendominasi tenaga kerja di sektor tersebut.<\/p>\n<p>Dr. Uli menjelaskan bahwa perempuan seringkali terjebak dalam posisi rentan dengan akses terbatas terhadap modal, teknologi, dan pelatihan usaha yang berkelanjutan. Budaya patriarki yang kental di masyarakat Batak juga menyebabkan mereka menjadi &#8220;pemilik de facto&#8221; tanpa pengakuan formal atau kontrol penuh atas usaha mereka.<\/p>\n<p>&#8220;Situasi ini menimbulkan ketimpangan struktural yang tak hanya menahan potensi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperlambat transformasi sosial menuju masyarakat yang lebih adil dan setara gender,&#8221; Jelas Dr. Uli.<\/p>\n<p>Penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan pelaku usaha di kawasan Destinasi Super Prioritas Danau Toba umumnya memiliki Entrepreneurial Orientation (EO) yang tinggi, dengan skor rata-rata 3,61. Mereka unggul dalam hal inovasi, proaktivitas, dan kemandirian dalam mengelola usaha. Banyak di antaranya mampu menciptakan produk baru, menyesuaikan diri dengan kebutuhan wisatawan, dan menjalankan usaha secara mandiri di bidang kuliner, homestay, kerajinan tangan, dan jasa wisata. Namun, kemampuan mengambil risiko dan bersaing secara agresif masih tergolong rendah, yang menunjukkan bahwa mereka lebih memilih strategi usaha yang hati-hati dan berkelanjutan.<\/p>\n<p>Penelitian juga menemukan perbedaan antara generasi. Perempuan pelaku usaha dari generasi muda (milenial) cenderung memiliki nilai EO yang lebih tinggi, terutama dalam hal inovasi, pemanfaatan teknologi, dan orientasi pasar digital. Mereka lebih terbuka untuk berkolaborasi dan mencoba strategi baru. Sebaliknya, pelaku usaha dari generasi yang lebih tua lebih mengandalkan jaringan sosial tradisional dan cenderung mempertahankan cara-cara lama dalam menjalankan usaha, dengan tingkat pengambilan risiko yang lebih rendah.<\/p>\n<p>&#8220;Jenis usaha juga memengaruhi nilai EO. Usaha di bidang kuliner dan kerajinan tangan biasanya menunjukkan inovasi produk yang lebih tinggi karena dekat dengan tren dan permintaan wisatawan. Sementara itu, usaha homestay dan jasa transportasi lokal lebih konservatif, fokus pada pelayanan dan keberlanjutan Oleh karena itu, strategi intervensi perlu dibedakan. Untuk generasi muda, penting untuk mendorong literasi digital, inovasi, dan kolaborasi. Sedangkan untuk generasi tua, pendampingan sebaiknya difokuskan pada penguatan manajemen, kepemimpinan yang adaptif, dan pelatihan untuk meningkatkan keberanian dalam mengambil risiko,&#8221; Tutur Dr. Uli.<\/p>\n<p>Berdasarkan hasil penelitian, strategi intervensi yang efektif bagi pemberdayaan perempuan pelaku usaha di kawasan Danau Toba disusun dalam lima pilar utama. Strategi tersebut meliputi pelatihan berbasis growth mindset dan entrepreneurial mindset, penguatan akses keuangan melalui koperasi perempuan dan kredit mikro, digitalisasi usaha serta perluasan pasar, kolaborasi lintas generasi dan sektor, serta pembangunan ekosistem kewirausahaan yang melibatkan berbagai pihak melalui pendekatan Pentahelix.<\/p>\n<p>Dr. Uli merekomendasikan bahwa strategi ini harus ditujukan kepada berbagai aktor. Pemerintah pusat diharapkan menyederhanakan pembiayaan komunitas tanpa agunan, mengalokasikan sebagian anggaran acara untuk produk perempuan lokal, serta mengintegrasikan data UMKM perempuan ke dalam sistem OSS\/NIB untuk mendukung insentif dan promosi. Pemerintah daerah disarankan memetakan pelaku usaha perempuan, menyediakan layanan klinik usaha keliling, mengembangkan pelatihan berbasis keluarga, dan melibatkan jaringan sosial seperti marga dan gereja untuk memperkuat komunitas usaha perempuan. BPODT diharapkan menyediakan zona khusus UMKM perempuan dalam event pariwisata, membangun inkubator usaha berbasis rumah tangga, dan mendorong kolaborasi vendor besar dengan UMKM lokal.<\/p>\n<p>Dukungan juga diperlukan dari akademisi, sektor swasta, komunitas lokal, dan media. Lembaga pendidikan dapat menyusun modul pelatihan berbasis budaya Batak dan menjalankan program pembelajaran langsung bersama komunitas. Sektor swasta diharapkan menjalin kemitraan dengan UMKM perempuan dan mendukung promosi produk di tempat strategis seperti hotel dan bandara. Komunitas lokal dapat mengaktifkan arisan usaha, membangun pendampingan lintas generasi, dan menyediakan layanan konsultasi usaha. Sementara itu, media dan platform digital berperan penting dalam menyebarkan kisah inspiratif, mempromosikan produk perempuan, dan menyediakan ruang diskusi serta pengaduan berbasis komunitas.<\/p>\n<p>Sebagai informasi tim penguji sidang promosi doktor terdiri dari ketua Prof. Dr. Dra. Retno Kusumastuti Hardjono, M.Si., Promotor Dr. Pantius Drahen Soeling, M.Si., ko-promotor Prof. Dr. Chandra Wijaya, M.Si., MM. dan beranggotakan Prof. Dr. Sapta Nirwandar, S.E., DESS., Dr. Elitua Hamonangan Simarmata., Dr. Fibria Indriati Liestiawati, M.Si. serta Dr. Ixora Lundia Suwaryono, M.S.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Depok, 3 Juli 2025 &#8211; Doktor Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) sekaligus aktivis perempuan, Hadriani Uli Tiur Ida Silalahi, dalam sidang promosi doktornya menyoroti pentingnya strategi intervensi yang disesuaikan untuk mengakselerasi orientasi kewirausahaan perempuan berbasis komunitas di Destinasi Super Prioritas (DSP) Danau Toba. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":319,"featured_media":26938,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-26937","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26937","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/319"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26937"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26937\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":30732,"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26937\/revisions\/30732"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26938"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26937"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26937"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26937"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}