{"id":26909,"date":"2025-07-07T15:00:04","date_gmt":"2025-07-07T08:00:04","guid":{"rendered":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/?p=26909"},"modified":"2026-07-03T15:14:59","modified_gmt":"2026-07-03T08:14:59","slug":"doktor-fia-ui-bahas-rekontruksi-dynamic-governance-djki-menuju-kantor-ki-kelas-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/doktor-fia-ui-bahas-rekontruksi-dynamic-governance-djki-menuju-kantor-ki-kelas-dunia\/","title":{"rendered":"Doktor FIA UI Bahas Rekontruksi Dynamic Governance DJKI menuju Kantor KI Kelas Dunia"},"content":{"rendered":"<p>Di tengah era persaingan pengetahuan (knowledge-based competition), Indonesia meghadapi tantangan besar dalam mengelola kekayaan intelektual (KI). Hal ini dikaji dalam disertasi Dr. Aditya Sarsito Sukarsono, di mana kekayaan intelektual, yang merupakan hasil kreativitas manusia, belum optiomal berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi an posisi daya saing inovasi Indonesia. Meskipun terjadi peningkatan permohonan HKI dan penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor KI, posisi Global Inovation Index (GII) Indonesia masih stagnan pada tahun 2024 berada di peringkat 54 dunia.<\/p>\n<p>Disertasi ini menyoroti bahwa transformasi Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) menuju Kantor Kekayaan Intelektual Kelas Dunia membutuhkan tata kelola yang adaptif, visioner, dan berbasis kapabilitas dinamis, bukan sekadar reformasi administratif. Penelitian Dr. Sukarsono mengadopsi kerangka dynamic governance, menekankan kemampuan organisasi untuk thinking ahead, thinking again, dan thinking across, serta pembangunan able people dan agile process sebagai pilar institusional.<\/p>\n<p>&#8220;Tujuan penelitian ini adalah menganalisis implementasi prinsip dynamic governance di DJKI dan mengevaluasi bentuk kelembagaan yang paling mendukung penguatan tata kelola dinamis di DJKI, dengan menggunakan pendekatan mixed-method dan menggabungkan eksplorasi kualitatif studi literatur, analisis kebijakan, wawancara dengan analisis kuantitatif menggunakan Fuzzy VIKOR dan Fuzzy TOPSIS dalam multi-criteria decision making atau MCDM,&#8221; Jelas Dr. Aditya.<\/p>\n<p>Dalam pidatonya Dr. Aditya menyampaikan bahwa hasil penelitian menunjukkan DJKI masih terbatas dalam fleksibilitas struktural, inovasi proses, dan pengembangan SDM berbasis kompetensi. Kapabilitas thinking again dan thinking across masih reaktif dan belum terinstitusionalisasi. Analisis fuzzy pun menunjukkan bentuk kelembagaan DJKI saat ini tidak mendukung dinamika governance yang dibutuhkan.<\/p>\n<p>Dr. Aditya mengungkapkan bahwa metode Fuzzy VIKOR merekomendasikan BUMN Kekayaan Intelektual sebagai opsi kompromi terbaik, sementara Fuzzy TOPSIS menyarankan Badan Otonom sebagai alternatif ideal. Kedua bentuk ini dinilai memungkinkan internalisasi prinsip dynamic governance secara struktural dan fungsional.<\/p>\n<p>&#8220;Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan dynamic governance krusial bagi DJKI unutk menjadi kantor kekayaan intelektual kelas dunia, di mana perubahan kelembagaan menjadi instrumen mewujudkan tata Kelola yang dinamis dan responsif,&#8221; Tutup Dr. Aditya.<\/p>\n<p>Sebagai informasi tim penguji sidang promosi doktor terdiri dari, ketua: Prof. Dr. Teguh Kurniawan, M.Sc., promotor Dr. Heri Fathurahman, M.Si., ko-promotor Dr. Ima Mayasari, S.H., M.H. dan anggota Dr. Andrieansjah, S.T., S.H., M.M., Dr. Freddy Harris, S.H., LLM, Dr. Roy Valiant Salomo, M.Soc.Sc., Dr. Muh Azis Muslim, M.Si., Dr. Umanto, S.Sos., M.Si.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di tengah era persaingan pengetahuan (knowledge-based competition), Indonesia meghadapi tantangan besar dalam mengelola kekayaan intelektual (KI). Hal ini dikaji dalam disertasi Dr. Aditya Sarsito Sukarsono, di mana kekayaan intelektual, yang merupakan hasil kreativitas manusia, belum optiomal berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi an posisi daya saing inovasi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":319,"featured_media":26910,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-26909","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26909","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/319"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26909"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26909\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":30729,"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26909\/revisions\/30729"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/26910"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26909"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26909"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fia.ui.ac.id\/Id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26909"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}