Jakarta — Kawasan Tambora, Jakarta Barat, kembali menjadi perhatian publik setelah disebut sebagai salah satu wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia. Kondisi permukiman yang padat dan minim ruang terbuka dinilai menjadi tantangan serius dalam tata kelola pembangunan perkotaan di Jakarta.

Pengamat tata kota Universitas Indonesia, Muh Azis Muslim, menilai kondisi Tambora merupakan cerminan dari pembangunan kawasan perkotaan yang berlangsung tanpa perencanaan jangka panjang yang terintegrasi. Kedekatan wilayah tersebut dengan pusat perdagangan dan aktivitas ekonomi sejak lama mendorong pertumbuhan permukiman secara cepat dan tidak terkendali.

Menurutnya, kepadatan permukiman di Tambora turut memunculkan berbagai persoalan perkotaan, mulai dari risiko kebakaran, keterbatasan sanitasi, minimnya ruang terbuka hijau, hingga kerentanan banjir akibat kurangnya daerah resapan air.

Azis juga menyoroti pentingnya pemerataan pembangunan di Jakarta. Selama ini, pembangunan dinilai lebih terfokus pada kawasan pusat bisnis dan ekonomi, sementara sejumlah wilayah padat penduduk di pesisir dan permukiman lama masih menghadapi persoalan infrastruktur dan kualitas lingkungan.

Dalam upaya penataan kawasan, pendekatan yang mengedepankan dialog dan pelibatan masyarakat dinilai menjadi langkah penting. Penataan kawasan berbasis komunitas atau in situ upgrading dianggap dapat menjadi solusi yang lebih berkelanjutan dibandingkan relokasi paksa, karena masyarakat tetap dapat mempertahankan akses terhadap mata pencaharian dan jaringan sosial yang telah terbentuk.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri disebut tengah memprioritaskan penanganan kawasan kumuh di sejumlah wilayah, termasuk Jakarta Barat dan Jakarta Utara, sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas lingkungan permukiman di ibu kota.

Sumber: Kompas.com