JAKARTA, KOMPAS.com – Perpindahan warga dari Jakarta ke wilayah penyangga mulai menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Sejak 2023, data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta menunjukkan warga yang pindah dari Jakarta lebih banyak dari warga pendatang baru.

Pengamat tata kota, M. Azis Muslim, menyebut fenomena tersebut sebagai “sinyal kuning” suburbanisasi.

“Bisa kita katakan sebagai sebuah sinyal kuning dari proses suburbanisasi,” ujar Azis kepada Kompas.com, Kamis (30/4/2026).

Ia menjelaskan, suburbanisasi merupakan perpindahan dari pusat kota ke wilayah pinggiran yang umumnya didorong keinginan mencari kehidupan yang lebih baik, mulai dari hunian hingga kualitas hidup.

“Dalam hal ini bisa jadi mencari perumahan yang lebih baik, biaya hidup yang terjangkau, kualitas hidup yang lebih tinggi, dan ini saya rasa sudah mulai berlangsung juga di Jakarta,” kata dia.

Warga Pindah Lebih Banyak dari Warga Baru Kepala Dukcapil DKI Jakarta, Denny Wahyu Haryanto, menyebut arus penduduk pascalebaran 2026 menunjukkan tren berbeda.

“Arus pendatang baru ke Jakarta pascalebaran 2026 tercatat menurun. Sebaliknya, jumlah warga yang keluar dari Ibu Kota justru meningkat dan bahkan hampir dua kali lipat dibandingkan yang masuk,” ujar Denny, Selasa (5/5/2026).

Data mencatat, sebanyak 12.766 pendatang masuk, sementara 22.617 warga keluar pada periode 25 Maret hingga 30 April 2026.

Tren penurunan pendatang juga sudah terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2021–2023, jumlah pendatang pascalebaran masih di atas 20.000 jiwa, lalu turun menjadi sekitar 16.000 jiwa pada 2024 dan 2025.

Namun, lonjakan perpindahan tidak sepenuhnya mencerminkan mobilitas riil. Sebagian dipengaruhi program penataan dokumen kependudukan.

Sejak 2024, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendorong warga untuk menyesuaikan alamat KTP sesuai domisili sebenarnya. Hasilnya, ratusan ribu warga tercatat memindahkan administrasi kependudukannya.

Kepala Dukcapil sebelumnya, Budi Awaluddin, menyebut pada 2024 terdapat 321.782 warga pindah keluar Jakarta, serta 105.061 perpindahan antarwilayah di dalam DKI.

Pada tahun 2024, warga Jakarta yang pindah ke Kabupaten Bogor yakni 49.473 orang, lalu Kabupaten Bekasi (40.440), Kota Depok (40.320), Kota Bekasi (33.868), Kota Tangerang Selatan (26.508), Kota Tangerang (23.452), Kabupaten Tangerang (19.929), Karawang (3.782), dan Kota Bogor (2.864).

Angka penduduk yang keluar Jakarta lebih banyak dari pendatang baru sudah terlihat sejak 2023.

Sepanjang 2023, jumlah penduduk yang keluar Jakarta sebanyak 243.160, sedangkan penduduk pendatang baru dari luar Jakarta sebanyak 136.200 orang.

Berdasarkan Data Konsolidasi Bersih (DKB) semester 2 tahun 2023 jumlah penduduk DKI Jakarta sebanyak 11.337.563 orang, turun sebanyak 12.765, dibandingkan DKB semester 1 tahun 2023 sebanyak 11.350.328.

Harga Rumah Jadi Pendorong Utama

Menurut Azis, faktor paling kuat di balik suburbanisasi adalah semakin sulitnya akses terhadap hunian di Jakarta.

“Dari sisi harga rumah di Jakarta itu sudah semakin sulit dijangkau, terutama rumah tapak,” ujarnya.

Kondisi ini membuat warga, terutama kelompok berpenghasilan rendah, mencari alternatif ke pinggiran kota yang menawarkan harga lebih terjangkau.

Data Dukcapil menunjukkan, sekitar 64,53 persen warga yang pindah merupakan kelompok berpenghasilan rendah, dengan alasan terbesar perpindahan adalah perumahan (33,92 persen).

Kualitas Hidup Ikut Menentukan

Selain faktor ekonomi, kualitas hidup menjadi pertimbangan penting. Azis menilai kondisi Jakarta yang semakin padat dan penuh tekanan lingkungan turut mendorong perpindahan.

“Kalau di pusat kota itu sudah padat pemukiman, cukup banyak terjadi polusi, baik polusi udara maupun polusi suara,” kata dia.

Sebaliknya, wilayah pinggiran dinilai lebih nyaman karena masih memiliki ruang terbuka hijau.

“Kalau di daerah pinggiran itu lebih nyaman karena masih banyak ruang terbuka hijau yang tersedia, yang berarti kualitas hidup itu akan lebih baik,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa wilayah pinggiran dianggap lebih aman dan memiliki tingkat kriminalitas lebih rendah.

Perlu Antisipasi Agar Masalah Tidak berpindah

Azis mengingatkan, suburbanisasi perlu dikelola dengan perencanaan yang matang agar tidak memunculkan masalah baru di wilayah penyangga.

Ia menekankan pentingnya integrasi kebijakan antara Jakarta dan kawasan sekitarnya.

Tanpa pengendalian, ia memperingatkan wilayah pinggiran berpotensi mengalami masalah serupa dengan Jakarta.

“Jangan sampai wilayah pinggiran nanti menjadi Jakarta selanjutnya, menjadi tidak nyaman, menjadi relatif lebih mahal,” kata Azis.

Dengan tren yang mulai terlihat, suburbanisasi di Jakarta kini tidak lagi sekadar wacana, melainkan sinyal awal perubahan lanskap perkotaan yang perlu diantisipasi sejak dini.

sumber: https://megapolitan.kompas.com/read/2026/05/05/15155361/sinyal-kuning-suburbanisasi-jakarta-warga-kian-marak-pindah-ke-kota?page=all#page2

Leave a Comment