PENGAMAT tata kota dari Universitas Indonesia, Muh Azis Muslim menilai kebijakan pemilahan sampah dari sumber merupakan langkah yang tepat untuk mengatasi persoalan sampah di Jakarta. Namun, efektivitas program tersebut sangat bergantung pada konsistensi sistem pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.
Menurut Azis, pemilahan sampah sejak dari rumah tangga secara konsep dapat mempermudah proses pengolahan di tingkat akhir karena penanganan sampah di hilir sangat dipengaruhi tata kelola di level hulu.
“Kalau di level hulu sudah dilakukan mekanisme pemilahan sampah tentu itu akan meringankan, itu akan memudahkan bagaimana proses selanjutnya di hilirnya,” kata Azis, Selasa (12/5).
Program Pilah Sampah Dinilai Belum Maksimal
Meski mendukung kebijakan tersebut, Azis mengingatkan gerakan pemilahan sampah sebenarnya bukan program baru di Jakarta. Menurut dia, kebijakan serupa sudah berjalan lebih dari satu dekade namun belum memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan volume sampah.
“Nah pertanyaannya adalah apakah efektif? Nah ini yang juga mesti kita cermati. Gerakan melakukan pemilahan sampah ini kan sudah berjalan sangat lama,” ujarnya.
Ia menilai keberhasilan program pilah sampah tidak cukup hanya mengandalkan kampanye atau imbauan kepada masyarakat tanpa dukungan sistem yang terintegrasi.
Edukasi Masyarakat Jadi Kunci Pengelolaan Sampah
Azis menyebut ada tiga aspek utama yang perlu dibenahi agar program pemilahan sampah berjalan efektif.
Pertama, edukasi masyarakat secara masif dan berkelanjutan untuk membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah.
Menurut dia, kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan sebenarnya mulai tumbuh, termasuk dalam kebiasaan mengurangi penggunaan plastik saat berbelanja.
“Masyarakat saya rasa sudah memiliki kesadaran. Emak-emak sekarang banyak yang membawa kantong sendiri saat belanja. Artinya edukasi seperti ini penting dan harus terus diperkuat,” katanya.
Infrastruktur Sampah Jakarta Dinilai Masih Lemah
Aspek kedua yang menjadi sorotan adalah kesiapan infrastruktur pengelolaan sampah terpilah.
Azis menilai masih sering terjadi sampah yang telah dipilah warga kembali dicampur saat proses pengangkutan menuju tempat penampungan sementara (TPS) maupun tempat pembuangan akhir (TPA).
“Disinilah infrastruktur pemerintah menjadi penting. Jangan sampai sampah sudah dipilah, tetapi ketika diangkut kembali dicampur. Itu bisa membuat kepercayaan masyarakat hilang,” tegasnya.
Pemprov DKI Diminta Terapkan Insentif dan Sanksi
Selain edukasi dan infrastruktur, Azis mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan sistem insentif dan disinsentif agar masyarakat lebih disiplin dalam memilah sampah.
Menurut dia, perubahan perilaku masyarakat akan lebih cepat terbentuk apabila ada penghargaan bagi warga yang tertib dan sanksi bagi yang tidak menjalankan aturan.
“Untuk merubah perilaku masyarakat paling mudah menerapkan insentif dan disinsentif. Harus ada penghargaan bagi yang tertib dan ada penegakan bagi yang tidak menjalankan,” ujarnya.
Pengelolaan Sampah Jadi Tantangan Jakarta
Persoalan pengelolaan sampah masih menjadi tantangan besar bagi Jakarta seiring meningkatnya volume sampah rumah tangga dan aktivitas perkotaan.
Kebijakan pemilahan sampah dari sumber dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir sekaligus meningkatkan efektivitas daur ulang dan pengolahan limbah. (Far/P-3)
sumber: Media Indonesia



