Kawasan Glodok Pancoran hingga Jalan Pintu Kecil, Taman Sari, Jakarta Barat, dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan dan destinasi wisata budaya di Jakarta.

Namun kondisi semrawut yang terus terjadi membuat kawasan ini jauh dari kata nyaman bagi pengunjung.

Pengamat Tata Kota Universitas Indonesia, M. Aziz Muslim, menekankan pentingnya penataan yang lebih rapi agar Glodok bisa berkembang menjadi destinasi wisata berkelanjutan.

“Kondisi Glodok yang semrawut tentu menjadi perhatian bersama. Semestinya, kawasan ini memiliki potensi besar sebagai salah satu destinasi wisata budaya,” kata M. Aziz saat dihubungi Kompas.com, Senin (9/2/2026).

Menurut dia, penataan dan pengelolaan yang belum efektif membuat kawasan tersebut tidak nyaman, terutama bagi wisatawan.

“Karena itu, pemerintah daerah diharapkan memberi perhatian lebih terhadap kawasan heritage yang memiliki nilai historis tinggi, dengan memastikan tata kelola destinasi wisata budaya seperti Glodok menjadi aman, nyaman, dan layak dinikmati pengunjung,” ujar dia.

Aziz menyoroti kesadaran hukum sebagai faktor utama ketidaktertiban di kawasan tersebut.

Area trotoar yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki kerap diserobot, baik untuk parkir maupun aktivitas pedagang kaki lima.

“Hal ini menunjukkan kurangnya penegakan hukum, sekaligus rendahnya edukasi kepada masyarakat untuk menjaga ketertiban dan mematuhi aturan. Situasi ini menjadi titik kritis yang menyebabkan ketidaktertiban di kawasan tersebut,” tutur Aziz.

Ia menekankan perlunya kolaborasi antarinstansi terkait, seperti Satpol PP dalam penindakan pelanggaran ketertiban umum, Dinas Perhubungan dalam pengaturan lalu lintas, serta pengelola kawasan seperti Pasar Jaya.

Menurutnya, keberadaan pedagang kaki lima, parkir liar, dan budaya berlalu lintas yang kurang tertib turut memengaruhi kemacetan dan menurunkan kualitas kawasan heritage.

“Di sisi lain, aktivitas ekonomi memang menjadi daya tarik kawasan. Prinsip ‘ada gula ada semut’ berlaku ketika suatu tempat ramai dikunjungi,” kata Aziz.

“Pengunjung membutuhkan tempat parkir, kenyamanan kawasan, serta fasilitas makan dan minum. Faktor-faktor penarik ini sering kali memicu munculnya pedagang kaki lima, parkir liar, dan kemacetan,” lanjutnya.

Dia menambahkan, pemerintah perlu hadir secara berkelanjutan, tidak hanya setelah muncul keluhan, tetapi melalui pemantauan rutin dan pengelolaan kawasan yang konsisten agar destinasi dapat dinikmati wisatawan.

“Untuk menyeimbangkan aktivitas ekonomi dan pelestarian sejarah, diperlukan penataan yang lebih efektif dan berorientasi pada perlindungan kawasan heritage,” ucap Aziz.

“Salah satunya melalui penyediaan zona khusus bagi pedagang kaki lima, penataan area parkir yang aman tanpa mengganggu pelestarian, serta peningkatan fasilitas publik. Jika hal ini tercapai, Glodok berpotensi menjadi destinasi wisata berkelanjutan,” tambahnya.

Langkah lain yang dibutuhkan, menurut Aziz, adalah perencanaan penataan kota yang komprehensif dan terintegrasi, termasuk rencana tata ruang yang jelas bagi kawasan Glodok.

Hal ini mencakup penataan pedagang kaki lima, fasilitas publik, serta optimalisasi jalur lalu lintas dan parkir.

“Peningkatan fasilitas publik juga penting, seperti toilet yang layak, ruang istirahat bagi wisatawan, serta pengelolaan sampah yang baik,” tuturnya.

Aziz optimistis, jika berbagai aspek ini diperbaiki, Glodok akan kembali hidup sebagai destinasi wisata budaya yang menarik dan nyaman dikunjungi masyarakat.

“Pengawasan dan penegakan hukum harus diperkuat terhadap pelanggaran penggunaan ruang publik oleh pedagang kaki lima maupun keberadaan parkir liar,” kata dia.

Kondisi Lapangan: Semrawut dan Padat Aktivitas

Pemandangan semrawut menyambut siapa pun yang melintasi kawasan Glodok Pancoran hingga Jalan Pintu Kecil pada siang itu.

Kompas.com menelusuri langsung ke lokasi, tampak lalu lintas nyaris lumpuh akibat percampuran aktivitas ekonomi yang tumpah ruah ke badan jalan.

Keberadaan gerbang besar bertuliskan “Kawasan Glodok Pancoran, Chinatown Jakarta” yang sedang dalam proses renovasi dan tertutup perancah besi seolah menjadi pintu masuk ke dalam labirin kemacetan.

Sepanjang Jalan Pancoran menuju Jalan Pintu Kecil, trotoar yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki telah beralih fungsi sepenuhnya.

Ratusan sepeda motor terparkir paralel hingga memakan hampir separuh badan jalan, sementara sisa ruang digunakan pedagang kaki lima untuk menggelar lapak.

Pejalan kaki pun terpaksa berjalan di aspal, berhimpitan dengan mobil pribadi dan ojek daring yang terus membunyikan klakson.

Kondisi diperparah oleh tenda-tenda darurat yang ditutupi plastik transparan di sisi jalan.

Tenda ini menjajakan berbagai pernak-pernik Imlek, mulai dari lampion hingga pohon mei hua berwarna merah muda cerah.

Meski menambah semarak suasana menjelang Cap Go Meh, tenda yang menjorok ke jalan mempersempit ruang gerak kendaraan, menciptakan antrean panjang hingga ke arah Pinangsia.

Hilirmudik kuli panggul dan pengantar barang menambah hiruk-pikuk.

Aroma kuliner jalanan bercampur dengan asap knalpot.

Salah satu lapak, “Sop Kaki Kambing Bang Kumis,” dipadati pembeli di bawah tenda oranye yang kusam dan sobek.

Pelanggan tampak asyik menyantap hidangan di atas meja kayu sederhana, seolah tidak terganggu debu jalanan dan bising lalu lintas.

Aktivitas perdagangan di depan deretan ruko tua seperti “Toko Obat Berlian Baru” dan toko pakaian menampilkan kontras yang mencolok.

Di satu sisi, pembeli sibuk memilih kaus bermotif naga, di sisi lain, tumpukan jeriken kuning dan kantong plastik sampah berserakan.

Kurangnya fasilitas sampah membuat sudut jalan terlihat kumuh.

Selama liputan, Kompas.com hanya menemukan tiga tempat sampah di area pintu masuk dan parkir gedung.

Di Jalan Pintu Kecil, kerumunan warga yang berbelanja kebutuhan pokok dan hiasan dinding membuat arus manusia padat.

Interaksi antara penjual, pembeli, dan pengendara yang bertanya arah menciptakan kebisingan memekakkan telinga.

Rambu larangan parkir tampak hanya sebagai hiasan.

Tepat di bawah rambu, aktivitas bongkar muat dan parkir motor berlangsung masif tanpa pengawasan petugas.

Tumpang tindih kabel listrik menjuntai rendah di atas tenda pedagang.

Beberapa helai kabel terikat asal-asalan pada tiang lampu atau kayu penyangga tenda, berisiko korsleting, terutama di cuaca tidak menentu.

Estetika kawasan sejarah seolah terkubur oleh hiruk-pikuk komersialisme yang tidak terkendali.

Keluhan Pengunjung

Reynald (27), karyawan swasta asal Bekasi, datang untuk mencari perlengkapan Imlek dan kuliner khas.

Ia menilai kawasan ramai dan lengkap, namun penataan yang kurang rapi mengurangi kenyamanan.

“Saya ke sini memang mau cari pernak-pernik Imlek sama sekalian kulineran, karena pilihannya banyak dan harganya masih terjangkau,” ujar Reynald saat ditemui.

Ia menyoroti sampah berserakan di beberapa titik dan parkir liar yang mempersempit jalan.

“Trotoarnya kepakai buat jualan, jadi pejalan kaki harus turun ke jalan, itu cukup mengganggu dan agak bahaya,” kata dia.

Hanifa (21), mahasiswa asal Jakarta Barat, datang untuk kuliner dan menikmati suasana Chinatown.

“Aku ke sini biasanya buat kulineran sama lihat suasana Chinatown yang memang beda dari tempat lain,” kata Hanifa.

Sebagai pengunjung yang cukup sering ke Glodok Pancoran, Hanifa turut menyoroti sampah dan parkir liar.

“Tadi sempat lihat ada sampah di pinggir jalan, jadi agak mengurangi kenyamanan pas jalan. Mobil sama motor parkir di pinggir jalan bikin jalannya sempit dan macet, apalagi pas ramai,” ujar dia.

Kesulitan berjalan di trotoar juga dirasakannya karena dipenuhi pedagang dan pengunjung.

“Semoga bisa ditata lebih bersih dan rapi, tapi tetap mempertahankan suasana khasnya supaya orang tetap tertarik datang,” kata Hanifa.

Tanggapan Juru Parkir dan Pedagang

“Di sini memang banyak yang datang bawa motor atau mobil, jadi mereka butuh tempat parkir dekat toko,” ujar salah satu juru parkir yang enggan disebutkan namanya.

Ia menambahkan, aktivitas parkir dilakukan untuk mencari penghasilan harian.

“Kalau lagi tidak ada penertiban, ya kami tetap jaga parkir di sini. Soalnya kalau tidak ada yang atur juga kendaraan jadi semrawut,” ujar dia.

Meskipun menyadari sempitnya jalan akibat parkir liar, juru parkir mengaku pengunjung ingin kendaraan berhenti dekat toko. Sementara Fuat (51), pedagang pakaian di trotoar, mengatakan penggunaan trotoar untuk berdagang sudah berlangsung lama karena keterbatasan ruang di dalam toko.

“Di sini dari dulu memang jualannya sampai ke depan, soalnya di dalam sudah penuh,” kata Fuat.

Ia mengakui lapaknya mengurangi ruang pejalan kaki, tetapi hal ini umum di kawasan pasar.

“Kalau ditaruh di dalam, orang lewat belum tentu masuk. Kalau di depan lebih kelihatan,” tutur dia.

Fuat berharap penataan tidak mematikan usaha pedagang kecil.

“Kalau ditertibkan boleh saja, tapi jangan sampai kami tidak bisa jualan lagi. Dari dulu suasananya sudah begini, ramai dan penuh pedagang. Itu juga yang bikin orang datang,” ujar Fuat.

Upaya Penertiban dari Satpol PP

Kepala Satpol PP Kecamatan Tamansari, Goodman Sidabutar, mengatakan bahwa setelah pemberitaan viral, pihaknya langsung melakukan penertiban dan sosialisasi kepada pedagang dan pihak terkait.

“Ke depan, penjagaan akan dilakukan setiap hari di area tersebut agar kondisi tetap tertib,” ujar Goodman saat dihubungi.

Terkait parkir liar, Goodman menekankan bahwa urusan parkir bukan sepenuhnya kewenangan Satpol PP.

“Pengelolaannya perlu dikonfirmasi ke Dinas Perhubungan atau UPT Parkir. Khusus area depan Chinatown, tidak ada retribusi parkir yang dikelola oleh pihak tertentu,” kata dia.

Satpol PP bertugas menertibkan pelanggaran, sementara penindakan terhadap kendaraan parkir liar berada pada Dinas Perhubungan.

Penanganan dilakukan secara kolaboratif, dengan rencana penertiban gabungan bersama Dinas Perhubungan dan kepolisian lalu lintas pada pukul 13.00 WIB.

Sumber: https://megapolitan.kompas.com/read/2026/02/10/18010131/pengamat-glodok-perlu-ditata-agar-jadi-destinasi-wisata-berkelanjutan?page=all#page2

Leave a Comment