Depok, 2 Juli 2025 – Dalam disertasinya yang berjudul “Desain ‘Produktisasi Jasa’ dan ‘Kolaborasi Strategik’ dalam Membangun Sistem Jasa-Produk ‘Total Care Aircraft’ (pada Perusahaan Global Perawatan Pesawat Terbang)”. Doktor Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) Jemsly Hutabarat soroti pandangan baru terkait masa depan bisnis Maintenance, Repair, and Operations (MRO) pesawat. Penelitian ini membahas bagaimana perusahaan MRO dapat meningkatkan pendapatan dan nilai perusahaan melalui strategi terpadu yang disebut.
MRO menjadi salah satu hal yang sangat sensitif terhadap gejolak ekonomi dan politik, dalam menghadapi berbagai tantangan saat ini, termasuk pesaing ketat, kemajuan sistem dan teknologi perawatan pesawat, perubahan regulasi, perubahan lingkungan global akibat pandemi COVID-19, dan perubahan tuntutan maskapai. Hal yang melatarbelakangi dalah penurunan pendapatan per ton-kilometer maskapai hingga enam kali lipat sejak tahun 1970 hingga 2023, mendorong maskapai untuk mencari cara untuk mengurangi biaya operasional, terutama di area biaya modal dan perawatan pesawat yang merupakan tiga biaya terbesar maskapai.
“Disertasi ini menunjukkan bahwa ada permintaan signifikan dari maskapai untuk sistem jasa-produk Total Care Aircraft (0.761). Permintaan ini lebih tinggi atau 134% dibandingkan permintaan hanya akan perawatan pesawat biasa,” ,” ujar Dr. Jemsly.
Total Care Aircraft ini memperluas lingkup layanan MRO dengan mengintegrasikan penyediaan produk berwujud (tangible) seperti suku cadang floating spare dan komponen pendukung. Model bisnis baru ini dapat dicapai melalui produktisasi jasa (kemampuan internal) atau kolaborasi strategis dengan pabrikan dan pemasok. Pendapatan yang dihasilkan tidak hanya dari jasa perawatan, tetapi juga dari berbagai biaya tambahan seperti access fee, availability fee, loan fee, dan exchange fee, yang semuanya ditagihkan dalam satu tarif tunggal per jam terbang pesawat (USD/per flight hours). Potensi pasar MRO global sendiri sangat menjanjikan, diproyeksikan mencapai 137 miliar USD pada tahun 2033, dengan pasar domestik sebesar 1,8-2,4 miliar USD per tahun.
Disertasi ini juga menyoroti kebutuhan akan tata kelola strategik khusus MRO, strategi harga customized ‘yield’ management (berdasarkan demand), dan pengakuan pendapatan dan biaya yang membutuhkan penyesuaian antara aspek teknis, perawatan, dan jadwal perawatan, beserta jaminan terhadap tujuh produk utama, serta prosedur (baru) khusus MRO dalam PSAK-72 (IFRS-15) berdasarkan prinsip dasar keuangan dan akuntansi.
Terapat sembilan keterbaruan alam peneltian ini baik dalam Praktik Penelitian Teoritis (enam novelty) maupun Praktik Bisnis Reguler (tiga novelty). Kebaruan teoretisnya meliputi fakta bahwa kualitas bukanlah prioritas utama dalam bisnis MRO (berada di urutan ketiga), berbeda dengan pendapat Imai (2012),iof model khusus dalam governansi strategik kolaborasi membangun produktisasi jasa dalam bisnis MRO berdasarkan kajian Wood (Wood & Gray, 1991), variasi baru dan tambahan (kondisi khusus) temuan Thomson dan Miller (Thomson et al., 2007) dalam kolaborasi Customized ‘Yield’ Management dalam $/FHRS pada bisnis aviasi dan MRO sebagai pendekatan baru diferensiasi harga berdasarkan demand, intertwined strategy untuk produktisasi jasa versus servitisasi produk, dimana produktisasi produk dapat dilaksanakan dengan limitasi dan kondisi tertentu, serta bahwa MRO mempunyai prosedur dan versi khusus dalam aplikasi PSAK-72 yang membutuhkan pengetahuan dan keahlian teknis dan keuangan/akuntansi.
Dr. Jemsly merekomendasikan agar dunia bisnis membentuk tim khusus dalam pengembangan sistem produk-jasa total care aircraft, mempersiapkan keahlian dan kompetensi spesialisasi penanganan PSAK-72, menindaklanjuti pemenuhan permintaan (signifikan) maskapai, dan menyelaraskan serta elaborasi Tata-kelola Strategik dalam Kolaborasi dalam penerapan Produktisasi Jasa. Bagi akademisi, disarankan untuk memperbarui (up-date) dan melengkapi konseptual dan teori mengenai variasi baru dan tambahan dalam kolaborasi, governansi strategik dalam kolaborasi membangun produktisasi jasa dalam bisnis MRO, dan prioritas kualitas di industri tertentu. Selain itu, memperkenalkan konsep dan teori baru dari intertwined strategy, seperti Analisis Multi Industri dan redefinisi istilah pesaing atau musuh dalam kolaborasi strategik, serta pendekatan baru dalam strategi harga Customized Yield Management dalam $/FHRS dan pendekatan pengakuan pendapatan & biaya sesuai PSAK-72 secara terpadu.
Dilanjutkan dalam penjelasannya, pemerintah juga didorong untuk menyesuaikan regulasi (perubahan undang-undang) yang mendukung iklim investasi, khususnya pengembangan produktisasi jasa untuk total care aircraft, memfasilitasi dan mendukung akselerasi penyediaan kemampuan, kapabilitas, dan kompetensi yang siap pakai untuk pekerjaan hi-tech labor intensive dalam bidang MRO, memberikan dukungan untuk pemberdayaan industri dan pengembangan teknologi penerbangan, sesuai UU no.1 tahun 2009 pasal 370, 371, dan 372, serta implementasi dan realisasi UU Penerbangan, pasal 370, ayat 3 bagian (f), dengan mempersiapkan dan membangun aerospace park atau aviation park. Penelitian lebih lanjut pada perusahaan MRO di luar Indonesia juga disarankan untuk generalisasi dan akurasi hasil penelitian yang bersifat global dan internasional.
Sebagai informasi, promosi doktor diketuai oleh Prof. Dr. Dra. Retno Kusumastuti Hardjono, M.Si., promotor Prof. Bernardus Yuliarto Nugroho, MSM, Ph.D., ko-Promotor Prof. Dr. Martani Huseini beranggotakan Prof. Dr. Ir. Mohammad Hamsal, MSE, MQM, MBA, Dr. Sri Bamantoro Abdinagoro, MM, CBV, CMP., Prof. Dr. Milla Sepliana Setyowati, S.Sos., M.Ak., Dr. Fibria Indriati D. L., M.Si.



