Penutup manhole utilitas di sejumlah trotoar dan jalan Jakarta kembali disorot.

Di beberapa titik Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, penutup saluran bawah tanah terlihat miring, lebih tinggi dari permukaan trotoar, bahkan tidak tertutup rapat.

Kondisi ini dinilai bukan sekadar masalah teknis. Ada aspek keselamatan, kenyamanan, hingga estetika kota yang ikut terdampak.

Pengamat Tata Kota Universitas Indonesia, M Aziz Muslim, mengatakan ketidakrataan manhole membawa dampak berlapis.

“Jadi terkait dengan masalah ketidakrataan penutup manhole utilitas di jalan dan trotoar Jakarta itu kan tentu akan memiliki berbagai macam dampak,” ujar Aziz, Kamis (19/2/2026).

Menurut dia, yang paling terdampak adalah pejalan kaki.

“Terutama buat para pedestrian ya, pengguna trotoar, itu kan tentu akan mengganggu kenyamanan pejalan kaki. Ya tidak hanya kenyamanan ya, mungkin dikhawatirkan juga keselamatannya juga ya,” kata dia.

Ia menegaskan, perbedaan permukaan sekecil apa pun bisa berisiko.

“Artinya kan kalau memang tidak rata akan potensi sandung, potensi terpleset, itu kan ada di situ ya,” tutur Aziz.

Risiko bagi disabilitas dan drainase

Aziz menilai persoalan ini makin serius jika dikaitkan dengan akses penyandang disabilitas. Trotoar seharusnya aman dan inklusif, namun manhole yang menonjol atau ambles justru bisa menghambat mobilitas.

“Nah apalagi kalau kita bicara pada penyandang disabilitas ya tentu ini akan sangat mengganggu buat kemudahan akses mereka,” ujar dia.

Ia juga mengingatkan fungsi manhole tidak bisa diabaikan. Sebagian besar merupakan akses ke sistem drainase.

“Hal yang juga tidak bisa kita abaikan adalah bahwa apa sih fungsi manhole di situ kan gitu. Kebanyakan kan yang ada itu kan manhole drainase. Jadi ini akan menjaga fungsi drainase, artinya untuk aspek perawatan ya atau maintenance,” jelas Aziz.

Menurut dia, manhole adalah titik penting untuk perawatan jaringan bawah tanah tanpa harus membongkar trotoar.

“Manhole drainase itu kan tidak hanya penutup saluran air, tapi merupakan titik akses strategis untuk kemudahan perawatan drainase, jaringan drainase yang bisa dilakukan tanpa harus merusak struktur trotoar maupun jalan,” tutur Aziz.

Namun, fungsi itu tidak boleh mengorbankan keselamatan.

“Terus juga kita bicara masalah estetika, kalau kita tidak baik, tidak rata kan juga akan mengganggu ya,” ucap dia.

Ia menekankan, posisi manhole harus rata dan stabil.

“Nah, sehingga memang harus posisinya terus rata, kokoh, dan stabil, serta meminimalkan risiko tadi tersandung atau terpeleset, terutama itu pada wilayah atau area yang intensitas lalu lintas perjalanan kaki itu tinggi,” katanya.

“Harus aman secara teknis, tapi juga harus memastikan ya menjadi bagian yang terintegrasi dalam sistem keselamatan publik,” ujar dia.

Aziz menegaskan, pengembalian kondisi trotoar menjadi tanggung jawab pihak yang mengerjakan utilitas.

“Ketika setelah pekerjaan utilitas selesai, itu nanti tidak merata ya ataupun tidak kompatibel kembali dengan posisi awal ini kan tentu sangat berbahaya. Sehingga tadi menjadi tanggung jawab dari pihak yang melakukan pekerjaan utilitas, yang mesti bertanggung jawab untuk mengembalikan seperti posisi semula,” jelas Aziz.

Temuan dan respons warga

Pantauan Kompas.com di Jalan HR Rasuna Said, Pancoran, hingga Gondangdia menunjukkan sejumlah manhole lebih tinggi dari trotoar, miring, bahkan menyisakan celah terbuka. Ada yang ambles membentuk cekungan, ada pula yang menonjol beberapa sentimeter. Saat hujan, genangan air membuat celah itu sulit terlihat.

“Yang paling penting keselamatan dan kenyamanan publik itu tadi yang utama,” ujar Aziz.

Sejumlah warga mengaku harus lebih waspada. Bella (27), karyawan swasta, mengatakan hampir setiap hari melintasi Rasuna Said.

“Saya hampir tiap hari lewat sini buat berangkat kerja. Memang harus lebih hati-hati kalau jalan, apalagi banyak tutup manhole yang miring atau lebih tinggi dari trotoar,” ujar Bella.

Menurut dia, kondisi makin berbahaya saat hujan.

“Kalau habis hujan juga makin bahaya karena ada yang ketutup genangan, jadi kita enggak tahu itu lubang atau permukaan rata,” kata Bella.

Sabri (35), pengemudi ojek online, juga menyoroti risiko bagi pesepeda.

“Kalau saya sering lihat penutup manhole yang enggak nutup rapat. Ada yang kebuka sedikit, ada yang miring. Itu bahaya banget, bukan cuma buat pejalan kaki, tapi juga pesepeda. Kalau ban nyangkut bisa jatuh,” kata dia.

Lisa (42), warga Jakarta Pusat, mengaku sempat hampir keseleo.

“Enggak terlalu tinggi memang, tapi cukup bikin kaget. Apalagi kalau bawa barang atau gandeng anak, pasti lebih repot,” ujar Lisa.

“Harusnya trotoar itu jadi tempat paling aman buat pejalan kaki, bukan malah bikin waswas,” katanya.

Penjelasan Dinas Bina Marga

Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Siti Dinarwenny, mengatakan sebagian besar manhole yang tidak rata merupakan manhole lama milik operator utilitas.

“Terhadap ketidakrataan manhole itu mayoritas merupakan manhole eksisting lama milik operator utilitas, di mana manhole utilitas merupakan bangunan pelengkap prasarana yang berfungsi sebagai akses untuk pemeriksaan, pemeliharaan, serta perbaikan jaringan utilitas bawah tanah salah satunya kabel fiber optik (internet),” ujar Wenny.

Ia menjelaskan, saat pembangunan trotoar dilakukan, posisi manhole sudah disesuaikan.

“Pada saat pelaksanaan pekerjaan hingga tahap penyelesaian pembangunan, posisi dan elevasi penutup manhole telah disesuaikan agar rata dengan permukaan trotoar sesuai standar teknis yang berlaku,” kata dia.

Namun, dalam masa operasional, kondisi bisa berubah akibat buka-tutup, penurunan tanah, hingga beban kendaraan.

“Faktor-faktor tersebut berpotensi menyebabkan ketidakrataan antara penutup manhole dan permukaan trotoar,” ujar Wenny.

Jika ada laporan, pihaknya akan menghubungi pemilik utilitas.

“Apabila terdapat informasi adanya permukaan yang tidak rata, maka Dinas Bina Marga akan segera menginformasikan kepada pemilik utilitas untuk segera melakukan perbaikan,” kata dia.

Sebagai solusi, Dinas Bina Marga menerapkan Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT) atau manhole bersama untuk mengurangi jumlah penutup di trotoar, termasuk di Jalan Sudirman, Rasuna Said sisi barat, dan kawasan Blok M.

Sumber: https://megapolitan.kompas.com/read/2026/02/21/15004641/trotoar-jakarta-yang-tak-lagi-rata-penutup-manhole-yang-jadi-ancaman?page=3

Leave a Comment