Depok, 7 April 2026 — Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “The Role of Data in Environmental Policymaking in the Global South: Barriers and Opportunities” di Auditorium EDISI 2020, Gedung M. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya FIA UI dalam memperkuat diskursus akademik terkait peran data dan informasi dalam tata kelola kebijakan lingkungan global.
Dalam pemaparannya, Prof. Maria Brockhaus menekankan bahwa data dan informasi memiliki peran strategis sebagai agent of change dalam proses perumusan kebijakan. Namun demikian, ia menggarisbawahi bahwa data tidak bersifat netral, melainkan merupakan konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh tujuan, definisi, serta aktor yang terlibat dalam proses pengumpulan dan penyajiannya. Oleh karena itu, pemahaman terhadap dimensi sosial dan politik dalam produksi data menjadi penting untuk menghasilkan kebijakan yang efektif, efisien, dan berkeadilan .
Lebih lanjut, Prof. Maria menjelaskan bahwa angka dan data berperan penting dalam membangun kepercayaan publik, mengevaluasi kebijakan, serta menjadi dasar dalam proses agenda setting dan pengambilan keputusan. Meski demikian, terdapat sejumlah tantangan dalam penggunaan data, seperti potensi bias dalam publikasi, keterbatasan transparansi dalam proses perhitungan (black box), serta kecenderungan penggunaan data untuk mendukung kepentingan tertentu. Kondisi ini menunjukkan bahwa data tidak hanya berfungsi sebagai alat teknis, tetapi juga memiliki dimensi politis yang perlu dicermati .
Dalam konteks kebijakan lingkungan, khususnya di kawasan Global South, Prof. Maria mengangkat isu perhutanan sebagai arena yang kompleks dengan berbagai kepentingan yang saling beririsan, mulai dari aspek ekonomi, pembangunan, hingga keberlanjutan lingkungan. Ia menyoroti bahwa dinamika tersebut turut dipengaruhi oleh warisan sejarah dan relasi kekuasaan yang tidak seimbang antar aktor, yang pada akhirnya berdampak pada arah kebijakan yang diambil .
Melalui studi kasus skema REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation), ia menunjukkan bahwa implementasi kebijakan berbasis data tidak selalu berjalan optimal. Berbagai kritik muncul, antara lain minimnya keterlibatan masyarakat lokal, dominasi aktor besar, serta potensi bias dalam definisi dan pengukuran yang digunakan. Selain itu, terdapat tantangan dalam menyelaraskan antara pendorong perubahan dengan implementasi kebijakan di lapangan, termasuk dalam hal struktur insentif dan praktik kelembagaan yang telah mengakar .
Prof. Maria juga menyoroti pentingnya pendekatan multidimensional dalam memahami peran data dalam kebijakan, salah satunya melalui kerangka analisis 4I yang mencakup aspek institusi, kepentingan aktor, ide, dan informasi. Pendekatan ini dinilai mampu membantu mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi proses produksi dan penggunaan data dalam kebijakan publik .
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa meskipun perkembangan data dan teknologi dapat mendukung proses perumusan kebijakan yang lebih baik, hal tersebut tidak secara otomatis menjamin terciptanya kebijakan yang efektif dan adil. Transparansi dalam produksi pengetahuan serta kesadaran terhadap dimensi politik yang melatarbelakangi data menjadi kunci dalam mendorong tata kelola kebijakan yang lebih akuntabel dan berintegritas .
Melalui kegiatan ini, FIA UI berharap dapat meningkatkan pemahaman kritis sivitas akademika, khususnya mahasiswa terhadap peran data dalam kebijakan publik serta mendorong kontribusi akademik dalam menjawab tantangan tata kelola lingkungan di tingkat global.



