Depok, 27 Oktober 2025 – Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) menyelenggarakan kuliah umum bersama Prof. Tain-Jy Chen dari Taipei School of Economics and Political Science, National Tsing Hua University. Dalam kuliah bertajuk “Semiconductor Geopolitics: Taiwan and ASEAN”, Prof. Chen memaparkan bagaimana industri semikonduktor Taiwan mendominasi pasar global sekaligus membuka peluang strategis bagi negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, untuk mengambil peran yang lebih besar dalam rantai pasok semikonduktor dunia.

Kuliah umum ini dibuka oleh Dekan FIA UI, Prof. Dr. Dra. Retno Kusumastuti Hardjono, M.Si., dan disampaikan bahwa FIA UI merasa terhormat atas kehadiran Prof. Tain-Jy, yang dengan keahlian luas di bidang ekonomi, kebijakan, dan teknologi memberikan wawasan berharga untuk Dosen dan Mahasiswa, khususnya dalam memahami bagaimana dinamika global membentuk tata kelola dan inovasi di kawasan kita.

“Kami yakin, bahwa kuliah hari ini memiliki keterkaitan yang kuat dengan bidang-bidang tersebut, dan membantu kami memperdalam pemahaman tentang bagaimana perubahan teknologi dan geopolitik memengaruhi tata kelola dan inovasi di kawasan Asia Tenggara,” lanjutnya.

Setelah acara dibuka oleh moderator, Dr. Vishnu Juwono, S.E., MIA., kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Prof. Chen. Dalam pemaparannya, Prof. Chen menjelaskan bahwa Taiwan saat ini menjadi salah satu pusat industri semikonduktor terbesar di dunia dengan kapasitas produksi mencapai lebih dari 21 persen dari total global.

Taiwan juga memimpin dalam pembuatan chip berteknologi tinggi, khususnya yang berada di bawah proses 7 nanometer, dan menguasai sekitar 63 persen pangsa pasar chip canggih dunia.

Keberhasilan ini tidak lepas dari peran Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) yang menguasai sekitar dua pertiga pasar foundry global. Selain itu, Taiwan juga menjadi pemain utama dalam sektor packaging dan assembly, serta menempati posisi kedua di dunia dalam desain chip setelah Amerika Serikat.

Prof. Chen menyoroti bahwa kekuatan utama industri semikonduktor Taiwan terletak pada ekosistem yang lengkap dan terintegrasi, mulai dari riset dan desain hingga pembuatan dan pengemasan chip. Keunggulan tersebut diperkuat dengan infrastruktur industri yang efisien, seperti kawasan Hsinchu Science Park, yang memungkinkan perusahaan saling terhubung dan mendukung proses produksi dengan waktu pengiriman komponen yang sangat cepat.

Selain membahas keunggulan industri Taiwan, Prof. Chen juga menyoroti pengaruh besar dinamika geopolitik antara Amerika Serikat dan China terhadap peta industri semikonduktor global. Menurutnya, ketegangan antara kedua negara mendorong perubahan signifikan dalam kebijakan ekspor dan arah investasi global.

Amerika Serikat kini memperketat ekspor peralatan teknologi tinggi ke China, termasuk ke pabrik TSMC (Taiwan Semiconductor Manufacturing Company) di Nanjing, sebagai langkah strategis untuk membatasi akses China terhadap teknologi chip canggih. Sebagai respons, China berusaha memperkuat produksi chip berteknologi menengah dan membangun rantai pasok domestik yang lebih mandiri.

Perubahan geopolitik tersebut mendorong perusahaan-perusahaan semikonduktor global untuk melakukan diversifikasi produksi dan investasi. TSMC, misalnya, telah membangun fasilitas produksi di Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman, sementara perusahaan seperti UMC dan Vanguard memperluas investasinya di Singapura. Negara-negara ASEAN, khususnya Malaysia dan Vietnam, juga semakin berkembang sebagai pusat packaging dan testing chip berkat dukungan perusahaan Taiwan dan Amerika Serikat.

Prof. Chen menegaskan bahwa sektor packaging, testing, dan desain chip merupakan bidang yang paling realistis untuk dikembangkan di negara-negara ASEAN karena membutuhkan modal yang lebih kecil dan memiliki risiko pasar yang lebih rendah dibanding pendirian pabrik chip berteknologi tinggi (fab).

Dalam konteks ini, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain penting berkat keunggulan sumber daya manusianya. Dengan lebih dari 300 ribu lulusan STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika) setiap tahun, Indonesia berpotensi menjadi penyedia utama tenaga ahli bagi industri semikonduktor di kawasan Asia.

Kuliah umum ini menjadi bagian dari upaya FIA UI dalam memperluas wawasan mahasiswa terhadap isu-isu strategis global yang berkaitan dengan kebijakan publik, ekonomi internasional, dan teknologi. Melalui kegiatan ini, FIA UI berkomitmen membekali mahasiswa dengan pemahaman yang mendalam mengenai keterkaitan antara kebijakan ekonomi, inovasi teknologi, dan dinamika geopolitik yang membentuk arah pembangunan masa depan.