Depok, 17 April 2026 — Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) bersama dengan Klaster Riset Public Governance and Administratiive Reform (PGAR) menyelenggarakan Brown Bag Discussion (BBD) bertajuk “Resource Nationalism in Southeast Asia: Case Studies from Indonesia, Malaysia, and Myanmar”. Kegiatan ini menghadirkan Thirunaukarasu Subramaniam dari Faculty of Arts & Social Sciences, Universiti Malaya, sebagai narasumber.

BBD ini membahas fenomena resource nationalism (nasionalisme sumber daya), yaitu kebijakan pemerintah dalam memperkuat kontrol atas sumber daya alam strategis di dalam negeri. Fenomena ini semakin berkembang di berbagai negara, khususnya di kawasan Asia Tenggara, seiring meningkatnya kebutuhan global terhadap mineral kritis serta dinamika transisi energi.

Dalam paparannya, Thirunaukarasu menjelaskan bahwa resource nationalism dapat muncul dalam berbagai bentuk kebijakan, seperti pembatasan ekspor bahan mentah, peningkatan pajak, kewajiban penggunaan komponen lokal, hingga nasionalisasi aset. Kebijakan ini umumnya didorong oleh kenaikan harga komoditas global, perkembangan teknologi seperti kendaraan listrik, serta perubahan posisi tawar antara pemerintah dan investor asing.

Indonesia menjadi salah satu studi kasus utama yang dibahas dalam kuliah ini. Kebijakan larangan ekspor bijih nikel yang diterapkan pemerintah dinilai berhasil mendorong hilirisasi industri dan menarik investasi besar ke dalam negeri. Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan tersebut telah mengubah Indonesia menjadi salah satu produsen nikel olahan terbesar di dunia serta meningkatkan nilai ekspor secara signifikan. Namun demikian, kebijakan ini juga memunculkan tantangan, termasuk dampak lingkungan dan ketergantungan pada energi berbasis batu bara dalam proses industri.

Selain Indonesia, Malaysia juga menunjukkan tren serupa melalui rencana pelarangan ekspor mineral tanah jarang (rare earth elements). Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri sekaligus memperkuat posisi Malaysia dalam rantai pasok global industri teknologi tinggi. Sementara itu, Myanmar menghadapi dinamika berbeda, termasuk kebijakan penghentian aktivitas pertambangan yang berdampak pada pasokan global timah.

Lebih lanjut, kuliah ini juga menyoroti bahwa resource nationalism memiliki dua sisi. Di satu sisi, kebijakan ini dapat meningkatkan pendapatan negara, memperkuat kedaulatan ekonomi, serta mendorong pembangunan industri nasional. Namun di sisi lain, terdapat risiko seperti menurunnya investasi asing, potensi konflik internasional, hingga dampak lingkungan yang signifikan apabila tidak dikelola dengan baik.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa FIA UI diharapkan dapat memahami dinamika kebijakan sumber daya alam secara lebih komprehensif, serta mengembangkan perspektif kritis terhadap hubungan antara ekonomi politik, keberlanjutan, dan tata kelola global.

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen FIA UI dalam menghadirkan diskursus akademik yang relevan dengan isu-isu global serta memperkuat jejaring kerja sama internasional di bidang pendidikan dan riset.

Leave a Comment